.

 
Mesin Pencari


Sisi Lain


Catatan bukan Cacatan

Hubungi Temangsang
My status
Sssstttt.....


Halaman ini telah dibuka sebanyak:
Counter
Prosentase Pengunjung
Data Pengunjung
IP Address Anda


Sintong Panjaitan; Di Balik Coretan "Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando"
Minggu, Maret 15, 2009
diambil dari detik.comKembali suasana politik Indonesia memanas, menyusul manuver seorang purnawirawan TNI AD dalam menjejaki langkah untuk menjadi seorang pujangga. Adalah Sintong Panjaitan; purnawirawan kelahiran Tarutung, Propinsi Sumatera Utara, 4 September 1941 yang telah melemparkan bola panas di tengah pergulatan politik para Capres dalam meraih simpati.
Banyak pihak menduga langkah Sintong merupakan manuver awal untuk menjegal Prabowo dan Wiranto dalam meraih kursi RI 1; berbeda dengan SBY dan Gus Dur yang tetap menganggap biasa manuver Sintong tersebut. Mantan Danjen Kopassus Tahun 1985 yang merupakan jebolan AMN Magelang (1963) ini memulai menorehkan prestasi di bidang militer selepas 2 tahun lulus dari AMN dengan pangkat Letnan Dua dan membawa pasukan RPKAD berhasil menguasai RRI Jakarta yang dikuasai kelompok G30S/PKI pada tanggal 1 Oktober 1965.
Di kancah Internasional, nama Sintong Panjaitan juga sempat membuat mata dunia terbuka akan keberhasilannya menggagalkan upaya pembajakan pesawat DC-9 Garuda di Woyla, Thailand, Maret 1981. Kala itu, Sintong yang berpangkat letnan kolonel, membawa sepasukan Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha) ke bandar udara Don Muang, Bangkok, dan berhasil membebaskan sandera serta melumpuhkan pembajaknya sekalian.
Perjalanan karir purnawirawan bintang tiga ini sarat diwarnai dengan pengalaman tempur di garis depan. Gerombolan PGRS di Kalimantan Barat, OPM di Irian Jaya, dan penyergapan Kahar Muzakkar di Sulawesi adalah contoh pertempuran yang dimenanginya. Pertempuran yang berakhir gemilang, ternyata tak selalu membawa keberuntungan dalam karirnya.
Sampai pada akhirnya lembaran hitam menghampiri dirinya dari karir militer terkait kasus 12 November Dilli. Temuan tim investigasi asing dan pengumuman Pemerintah terhadap pengusutan kasus tersebut, memojokkan Sintong dalam situasi sulit yang memaksa dia harus mempertanggungjawabkan tuduhan atas pembantaian 270 orang di Dilli dalam sebuah prosesi pemakaman seorang demontsran di Dilli.
Orde Baru identik dengan pemikiran Soeharto; demikian juga dengan langkah dan kebijakan Pemerintah. Walaupun Sintong diputus bersalah dan harus mengakhiri karir militernya, di belakang layar terdengar suara setengah membisik yang menyuarakan bahwa keputusan tersebut merupakan suatu bagian konspirasi untuk membunuh karir militer Sintong. Apalagi Sintong dikenal sebagai militer yang dekat dengan LB Moerdani pada tahun 80-an; di mana LB Moerdani pada akhir masa kepemimpinannya sempat berselisih pendapat dengan Soeharto.
Kini, setelah vakum dari dunia militer dan politik pasca menjabat sebagai penasehat militer senior era kepemimpinan Presiden BJ Habibie; nama Sintong seolah tenggelam dalam kehidupan pribadinya sehari-hari di daerah Jatiasih, Pondok Gede.
Kembali pada Coretan Sintong Panjaitan; tulisan ini seakan membuka sebuah tabir pengetahuan baru bagi mereka yang belum mengetahui sejarah militer Indonesia, namun bisa jadi merupakan suatu tamparan bagi mereka yang dulu pernah terlibat dalam sebuah konspirasi militer tingkat tinggi di Indonesia. Apalagi nama Sintong dulu pernah masuk dalam daftar hitam perwira yang harus disingkirkan; sampai akhirnya harus berhasil dengan memuat kasus 12 November Dilli.
Kini, benar tidaknya apa yang telah diceriatakan oleh seorang perwira jujur dalam pandangan Ginandjar Kartasasmita hanyalah sejarah yang mengetahuinya. Terlepas dari intrik politik menjelang pemilu 2009, ataupun upaya balas dendam pribadi atas konspirasi yang pernah menjatuhkan dirinya; hanyalah Sintong yang tahu.
Sebagaimana biasanya sebuah cerita misteri, kita hanyalah pembaca yang diajak menebak terlebih dahulu mengenai ending sebuah cerita diantara gambaran yang semuanya serba abu-abu. Namun, bukankah pengalaman sejarah yang dituliskan Sintong tersebut bukan merupakan sebuah cerita misteri; apalagi cerita fiksi???
ditulis oleh: Sang Fajar @ 3/15/2009 09:49:00 PM  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
Tentang Aku
Name: Sang Fajar
Home: Bojonegoro, Yogya, Papua, Jatim - DIY - Papua, Indonesia
About Me: Bagi mereka yang merasa berjasa, aku hanyalah sampah. Bagi mereka yang merasa intelek, aku hanyalah pembual. Bagi mereka yang merasa suci, aku hanyalah kotoran. Bagi mereka yang merasa terhormat, aku tak lebihnya seperti orang jalanan. Bagi mereka yang merasa pernah mengenalku, aku sepertinya sudah tak ada. Namun diantara semua anggapan yang pernah ada, semua tentang aku ada karena anggapan-anggapan yang pernah ada......
Data Lengkap

Tulisan Terdahulu
Arsip
Links
Facebook


© . Presented by Fajar Ari Setiawan