.

 
Mesin Pencari


Sisi Lain


Catatan bukan Cacatan

Hubungi Temangsang
My status
Sssstttt.....


Halaman ini telah dibuka sebanyak:
Counter
Prosentase Pengunjung
Data Pengunjung
IP Address Anda


Pukulan Kok Dibilang Sapaan Kedinasan?
Sabtu, September 13, 2008
Saya memang asli Bojonegoro, kota kecil yang perlahan mulai terkenal dengan ladang minyaknya. Namun, dalam setiap kali perjalanan pengembaraan saya, saya jarang menyebut asli dari Bojonegoro pada setiap orang yang baru saya temui. Bukan malu atau berusaha menyembunyikan identitas diri, namun jawaban sebagai wong Bojonegoro asli selalu diikuti pertanyaan,"Di mana to Bojonegoro itu?"
Sehingga seringkali disalahtafsirkan antara Bojonegoro Jawa Timur dengan Bojanegara ataupun Banjarnegara yang jelas jauh beda. Kota terakhir yang saya sebut tadi lebih terkenal dengan dawetnya, namun kota kelahiran saya jauh lebih bergengsi dengan minyaknya. Walaupun rasa minyak tidak seenak dawet ayu Banjarnegara, setidaknya minyak mampu mendatangkan devisa negara; setelah dipotong pungli, kompensasi, ataupun dana-dana lain yang berkedok administrasi.
Dari jauh saya masih sering mengikuti perkembangan berita mengenai kota kelahiran saya. Jawa Pos melalui sajian website-nya mampu menghadirkan berita perkembangan kota kelahiran saya tersebut. Sampai akhirnya sebuah berita sempat membuat kening saya berkerut; tentang aksi pemukulan wabup Setyo Hartono pada salah seorang staf Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil.
Dalam perkembangannya, pada sebuah pertemuan yang akhirnya diwujudkan dalam sebuah press release ketiga aktor dadakan tersebut membuat pernyataan yang diharapkan mampu meredam konflik lebih lanjut, bahkan pandangan lain masyarakat. Sekali lagi, itu cuman harapan, karena saya kira masyarakat sudah terlanjur memiliki persepsi dan argumen sendiri-sendiri tentang Wakil Bupati mereka yang baru tersebut.
Walaupun wakil dari Suyoto yang sewaktu memenangkan pilkada Bojonegoro tersebut masih berstatus Perwira Militer Aktif sempat membuat pernyataan dan permohonan maaf, apakah masalah tersebut akan mampu berhenti begitu saja. Sampai akhirnya Fraksi PDIP dan F Gabungan berusaha menggelar hak angket untuk menanyakan tentang aksi koboi dari Setyo Hartono. Dan yang perlu dipertanyakan lebih lanjut, Yusuf sebagai korban menyatakan dia tidak pernah menjadi korban pemukulan. Walah......Yusuf.....Yusuf......., dan semua itu hanyalah sebagai bagian dari sapaan akrab dari masa lalu mereka di sekolah kedinasan.
Seandainya, Yusuf bukan bawahan dan Hartono bukan atasan, akankah kasus itu hanya berhenti pada pernyataan maaf dan tidak adanya pemukulan? Seandainya kejadian tersebut berlangsung terbalik, Yusuf yang melakukan pemukulan pada Setyo Hartono, akankah Yusuf hanya cukup meminta maaf tanpa berujung pada pemecatan atau mungkin mutasi? Akankah juga Setyo Hartono sebagai Wakil Bupati akan menyatakan tidak pernah ada pemukulan dan itu semua hanyalah wujud sapaan akrab dari alumni kedinasan???
Ingat bung!!! Maaf tak akan pernah menghapus image masyarakat tentang pemimpin mereka. Dan sapaan akrab dalam sebuah kerangka kedinasan, apalagi di hadapan banyak saksi, ada tempatnya sendiri. Silahkan anda memukul bagian mana saja jika itu dapat diartikan sebagai sapaan akrab, namun tutup semua mata saksi yang ada, dan lepas semua atribut yang menempel dalam baju anda. Kalau perlu, lepas atribut jati diri sebagai pejabat dan panutan bagi masyarakat.
Har......militermu itu sudah menjadi bagian masa lalu. Jangan pernah memimpin Bojonegoro dengan tradisi militer, karena rakyat Bojonegoro bukan para serdadu yang siap untuk menerima perintah atasan dan pukulan atasan sebagai teguran. Rakyat Bojonegoro bukan kumpulan keledai bodoh yang harus siap setiap saat menerima pukulan atas kesalahan yang diperbuat. Kalau masih mau menegur, apalagi dengan bahasa yang dapat dimengerti manusia umumnya, Rakyat Bojonegoro pasti mau mendengar dan berubah.
Seandainya sikap tersebut dijadikan sebagai upaya manunggaling pemimpin dan bawahan, siap-siap aja untuk mengubah Bojonegoro menjadi kota koboi. Ketemu, pukul......jadi masalah, minta maaf. Selesai sudah........
ditulis oleh: Sang Fajar @ 9/13/2008 10:39:00 AM  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
Tentang Aku
Name: Sang Fajar
Home: Bojonegoro, Yogya, Papua, Jatim - DIY - Papua, Indonesia
About Me: Bagi mereka yang merasa berjasa, aku hanyalah sampah. Bagi mereka yang merasa intelek, aku hanyalah pembual. Bagi mereka yang merasa suci, aku hanyalah kotoran. Bagi mereka yang merasa terhormat, aku tak lebihnya seperti orang jalanan. Bagi mereka yang merasa pernah mengenalku, aku sepertinya sudah tak ada. Namun diantara semua anggapan yang pernah ada, semua tentang aku ada karena anggapan-anggapan yang pernah ada......
Data Lengkap

Tulisan Terdahulu
Arsip
Links
Facebook


© . Presented by Fajar Ari Setiawan