.

 
Mesin Pencari


Sisi Lain


Catatan bukan Cacatan

Hubungi Temangsang
My status
Sssstttt.....


Halaman ini telah dibuka sebanyak:
Counter
Prosentase Pengunjung
Data Pengunjung
IP Address Anda


Mundurlah Selagi Masih Berstatus Caleg......
Senin, September 01, 2008
Masa pencalegan telah terlewati setahap, dengan penyerahan daftar nama dari parpol kepada KPU. Walaupun pada tahapan ini ada keleluasaan bagi empat parpol untuk menyerahkan berkasnya di kemudian hari setelah mereka baru saja memenangkan putusan MA untuk mengikuti Pemilu 2009.
Tahapan awal pencalegan dan kekecewaan agaknya harus dimulai. Penyusunan daftar nomor urut caleg masih banyak menuai kekecewaan dari orang-orang yang tercantum di dalamnya; apalagi mereka yang namanya tak tercantum, tak perlu ditanyakan lagi tentang kekecewaannya. Jaman di mana nomor bukan lagi persoalan, seperti ketika booming nomer cantik seluler ataupun mistik nomor butut, sepertinya hal tersebut tidak berlaku bagi urutan nomor calon anggota legislatif. Seperti daftar antrian untuk masuk surga, perebutan nomer kecil sepertinya mulai ramai; mengalahkan perebutan nomer kecil dalam daftar tunggu jama'ah haji.
Pada penyerahan daftar caleg, banyak didapati kader-kader yang harus rela bersanding dengan nomer besar di depan nama mereka, walaupun track record mereka dapat dikatakan sangatlah bagus. Integritas, dedikasi, dan loyalitas selama puluhan tahun dalam sebuah kerangka pengabdian harus mengalah pada sebuah kultur nepotisme dalam partai. Sumbangan dan bantuan jutaan, milyaran (atau bahkan trilyunan rupiah?) tak mampu menggantikan saham yang telah terinvestasi atas sebuah nama keluarga dalam kepengurusan partai. Bahkan pengorbanan terhadap kesewenang-wenangan masa lalu harus dilupakan di dalam kesewenang-wenangan masa kini.
Alasan normatif haruslah menjadi pemenang atas segala debat dan kekecewaan. Mekanisme hanyalah sebuah aturan untuk menunjukkan betapa demokrasi telah ditanamkan sejak awal. Bahkan undang-undang rasanya hanya sebagai sebuah produk atas sebuah proses pekerjaan, walau akhirnya tidak pernah diindahkan. Praktik nepotisme tak boleh dilakukan oleh penguasa, namun perkecualian bagi keluarga mereka.
Partai yang bung besarkan, telah benar-benar besar. Besar dengan nama satu atau dua orang tokoh di belakangnya. Besar dengan badan-badan tambun yang menjadi ikon-nya. Besar dengan kesewenang-wenangan yang telah menjadi pengalaman masa lalunya. Paling tidak, seandainya bung tidak berkenan dengan partai yang telah menjadi tempat naungan selama ini, di luar sana masih tersisa banyak partai yang pasti akan dengan senang hati menampung bung di dalamnya; tidak seperti masa lalu yang hanya tersisa 2 partai jika kita tidak cocok dengan partai yang kita miliki. Setidaknya, jika kita tidak cocok dengan kesemuanya, golput-pun kita tidak akan ada yang tahu; bukankah pemilu ini, kemarin, dan nantinya bersifat rahasia.
Seorang penyanyi saja mampu mengukir bait nada dalam lagunya, yang mengutarakan tentang betapa kejamnya politik. Kalau tidak siap berpolitik, siapkan aja modal dari sekarang untuk usaha lain. Bukankah dana bantuan dari BI yang pernah diberikan untuk bung sudah cukup jika hanya untuk merintis sebuah usaha. Atau mungkin 500 juta dari hasil pemilihan deputi senior BI seperti yang pernah digosipkan mampu menambah sedikit modal.
Jangan pernah bung ungkapkan pada rakyat mengenai kekecewaan bung pada parpol, karena rakyat sudah lebih berpengalaman dalam merasakan kekecewaan terhadap parpol dengan janji manis secara berkala 5 tahunan. Karenanya, mundurlah selagi Bung masih berstatus sebagai Caleg; karena dalam sejarah bangsa ini, tidak pernah dituliskan setelah anda benar-benar menjadi anggota legislatif anda akan legawa mengajukan pengunduran diri anda. Kecuali anda dipaksa mundur hanya karena selembar traveller cheque yang bung akui demi menyelamatkan fraksi ataupun sekelompok teman bung yang लें. Sekali lagi, mundurlah sekarang juga jika bung kecewa, sebelum bung dipaksa mundur karena bung ketahuan telah mengecewakan sekretaris bung di gedung dewan yang terhormat.......
Suka atau tidak, itulah keputusan kompromistis jajaran elite partai. Tinggal pertanyaan selanjutnya apakah partai politik mau dibangun atas dasar kompromistis atau mentaati mekanisme aturan main dengan mengesampingkan kepentingan individu dan kelompok. Yang pasti solusinya adalah partai bisa terbangun ketika kolektivitas pimpinan di kedepankan dan dijalankan dengan demokratis dan transparan.
ditulis oleh: Sang Fajar @ 9/01/2008 11:56:00 PM  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
Tentang Aku
Name: Sang Fajar
Home: Bojonegoro, Yogya, Papua, Jatim - DIY - Papua, Indonesia
About Me: Bagi mereka yang merasa berjasa, aku hanyalah sampah. Bagi mereka yang merasa intelek, aku hanyalah pembual. Bagi mereka yang merasa suci, aku hanyalah kotoran. Bagi mereka yang merasa terhormat, aku tak lebihnya seperti orang jalanan. Bagi mereka yang merasa pernah mengenalku, aku sepertinya sudah tak ada. Namun diantara semua anggapan yang pernah ada, semua tentang aku ada karena anggapan-anggapan yang pernah ada......
Data Lengkap

Tulisan Terdahulu
Arsip
Links
Facebook


© . Presented by Fajar Ari Setiawan