.

 
Mesin Pencari


Sisi Lain


Catatan bukan Cacatan

Hubungi Temangsang
My status
Sssstttt.....


Halaman ini telah dibuka sebanyak:
Counter
Prosentase Pengunjung
Data Pengunjung
IP Address Anda


Kita Masih Butuh Mereka.....
Senin, September 29, 2008
Menghadap ke jalan Gatot Subroto, dari lantai 4 sebuah bangunan di Jakarta, aku menerima telpon dari seorang kawan lama. Sahabat yang dulu sering menggelar pertemuan denganku, dan berbicara tentang hal-hal ringan menyangkut masalah sosial di masyarakat.
Saat aku ingat pertemuan terakhir sekitar 6 tahun lalu, seperti saat ini, walau kami berada di satu kota yang bernama Jakarta, kami tetap saja tidak pernah dapat meluangkan sekedar waktu untuk dapat bertemu. Demikian juga dengan waktu itu, dalam telepon kami masih tetap menyinggung kapan ada sedikit waktu bagi kami berdua untuk bertemu, bukan hanya sekedar berkomunikasi melalui telepon.
Dalam setiap komunikasi, terlalu sering kami bicarakan keinginan untuk dapat menaklukkan waktu di Jakarta, untuk dapat bertemu di sela kesibukan, bahkan untuk tetap berkomunikasi dalam waktu luang kegiatan. Kita tidak ingin kepadatan agenda, sebagaimana kemacetan jalan raya di jakarta, membuat kami harus menyerah untuk berdiri berhadapan dan saling memandang ada tidaknya perubahan dalam setiap lekuk wajah sebagai akibat perpisahan yang lama.
Satu keinginan terhadap sahabat lama, saya tidak menginginkan sebuah kesibukan atau aktivitas tinggi akhirnya harus menaklukkan daya ingatku terhadap keberadaan sebuah sahabat. Karena, saya berpikir dengan keberadaan dia persahabatan ini atau mungkin persaudaraan nanti menjadi ada.
Masih dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, di telpon, sahabat lama ini kembali mengingatkan padaku tentang arti penting orang-orang yang ada di sekitar kita. Tak pernah peduli bagaimana anggapan mereka pada kita, tak peduli bagaimana perasaan mereka pada kita, termasuk tak peduli bagaimana sikap acuh mereka pada kita; yang jelas, kita harus selalu menanamkan pemahaman dalam diri, bahwa kita masih butuh mereka.
Saat ini, kita dengan segenap ego yang kita miliki, mungkin masih mampu bertahan untuk menutup mata dan menyumbat telinga, terhadap keberadaan mereka di sekitar kita. Namun mampukah kita jika suatu ketika diri ini sudah tak mampu menggerakkan kelopak mata atau bahkan mengangkat tangan untuk menyumbat telinga kita akan tetap melakukan aksi buta dan tuli?
Ibarat bermain bola sepak; bukan lapangan, bukan gawang, bukan pula bola yang membutuhkan kehadiran kita sebagai pemain di atasnya. Tanpa kehadiran kita, lapangan tetaplah lapangan; gawang tetaplah gawang, dan bola tetaplah bola! Namun, tanpa adanya mereka, akankah kita akan disebut sebagai pemain bola, jika kita berada bukan di sebuah lapangan dengan gawang dan bola di dalamnya????
Mungkin, ego dan sikap keras kepala manusia membuat dirinya merasa lebih jago dan hebat dari segala yang ada. Namun, tanpa mereka nyatanya manusia hanyalah seorang manusia. Seperti perumpamaan di atas, seorang manusia hanyalah manusia saja; tanpa ada arti apa-apa.....
ditulis oleh: Sang Fajar @ 9/29/2008 10:06:00 AM   0 comments
Dosa Masa Lalu
Rabu, September 17, 2008
Adalah hal yang paling membahagiakan, bangun tidur di saat fajar sudah terlewat menembus ketinggian celah tetumbuhan..... Bangkit dari tidur dengan semangat baru, walau seringkali ketika mata terbuka kesadaran belum juga pulih sepenuhnya. Hamparan selimut serta percikan mimpi yang tlah lewat, seakan mengantar hari baru bagi sebuah langkah maju.
Akhir-akhir ini aku sering mencoba menghabiskan malamku sebelum tidur dengan menelungkupkan tangan dan memejamkan mata, seakan ingin meraih dan bertemu dengan sosok yang tak pernah nyata; sembari mengalunkan kata-kata dalam hati, penyerahan diri dan penyesalan atas segala kekurangan yang telah terlalui dalam satu hari. Sampai akhirnya, tangan ku yang terkatup mulai terbuka, tetapi pejaman mata berlangsung sampai tidak ada lagi kesadaran dalam sebuah tidur malam.
Ujung ruangan dalam kamar, seakan seperti sebuah kenangan atas kesalahan masa lalu; yang siap setiap saat menghimpit aku dalam tidurku, sebagai balasan atas kecurangan, kesalahan, kekhilafan, atau bahkan penghianatan????
ditulis oleh: Sang Fajar @ 9/17/2008 08:49:00 PM   0 comments
Kali Ini, Beli Nomer Nggak Lagi Haram!!!
Minggu, September 14, 2008
Belum juga selesai masalah calon anggota legislatif ditetapkan dalam daftar sementara, goyangan dahsyat para pencari kursi sudah mulai muncul ke permukaan. Kali ini, prahara perebutan kursi menghampiri partai ka'bah, dengan isyu jual-beli atau makelaran nomor jadi sampai senilai 2 milyar rupiah.
Dua milyar jelas bukan angka yang sedikit untuk sebuah kesempatan menimbun harta selama 5 tahun jabatan. Namun, di satu sisi 2 milyar adalah angka yang relatif kecil jika melihat untuk suatu waktu dalam pemilihan deputi senior gubernur BI, lembaran traveller cheque bernilai pecahan 50 juta rupiah siap mengalir ke dalam laci meja kerja mereka; belum termasuk kerja-kerja yang lain.
Lha wong dulu jual beli nomer togel atau SDSB, bahkan PORKAS pada jaman nenek moyang monyet, itu saja mereka berteriak haram dan menuntut untuk dilarang; kok malah kali ini mereka berjualan nomer sendiri. Apa mungkin nomer yang diperjual belikan kali ini bernilai mahal, sehingga para tukang becak dan pedagang pinggiran nggak mampu beli lalu dapat begitu saja dibedakan dengan proses jual beli nomer semasa togel, kuda lari, singapuran, macan, SDSB, KSOB, bahkan PORKAS?
Para calon anggota dewan yang nantinya terlibat dalam pembuatan aturan perundang-undangan, sudah mulai berlatih sejak dini untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam membuat produk hukum yang handal; namun sayangnya, latihan yang mereka lakukan kali ini adalah latihan bergaya makelar. Makanya, jangan pernah heran jika dalam perjalanan lima tahun mendatang, akan tumbuh banyak Al Amin Nasution dkk.
Yang jelas, akankah dengan polemik awal seperti ini mampu menciptakan pion-pion dalam percaturan politik yang handal guna mengawal konstitusi bagi negeri ini? Saya tidak dan tidak akan pernah mengajak orang lain untuk melakukan aksi golput pada pemilu 2009, karena takut hukuman adalah alasan saya yang utama. Namun, calon-calon legislatif sendiri yang bertarung memiliki mental seperti yang terungkap, jangan salahkan pemilih jika mereka pada akhirnya memutuskan menjadi bagian golput dalam pesta rakyat mendatang.
Semakin anda cerdas memainkan strategi politik, semakin rakyat cerdas dalam memanfaatkan insting dan naluri dalam memilih pemimpin. Silahkan berjualan nomer, selagi belum diharamkan!!!
ditulis oleh: Sang Fajar @ 9/14/2008 08:52:00 PM   0 comments
Pukulan Kok Dibilang Sapaan Kedinasan?
Sabtu, September 13, 2008
Saya memang asli Bojonegoro, kota kecil yang perlahan mulai terkenal dengan ladang minyaknya. Namun, dalam setiap kali perjalanan pengembaraan saya, saya jarang menyebut asli dari Bojonegoro pada setiap orang yang baru saya temui. Bukan malu atau berusaha menyembunyikan identitas diri, namun jawaban sebagai wong Bojonegoro asli selalu diikuti pertanyaan,"Di mana to Bojonegoro itu?"
Sehingga seringkali disalahtafsirkan antara Bojonegoro Jawa Timur dengan Bojanegara ataupun Banjarnegara yang jelas jauh beda. Kota terakhir yang saya sebut tadi lebih terkenal dengan dawetnya, namun kota kelahiran saya jauh lebih bergengsi dengan minyaknya. Walaupun rasa minyak tidak seenak dawet ayu Banjarnegara, setidaknya minyak mampu mendatangkan devisa negara; setelah dipotong pungli, kompensasi, ataupun dana-dana lain yang berkedok administrasi.
Dari jauh saya masih sering mengikuti perkembangan berita mengenai kota kelahiran saya. Jawa Pos melalui sajian website-nya mampu menghadirkan berita perkembangan kota kelahiran saya tersebut. Sampai akhirnya sebuah berita sempat membuat kening saya berkerut; tentang aksi pemukulan wabup Setyo Hartono pada salah seorang staf Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil.
Dalam perkembangannya, pada sebuah pertemuan yang akhirnya diwujudkan dalam sebuah press release ketiga aktor dadakan tersebut membuat pernyataan yang diharapkan mampu meredam konflik lebih lanjut, bahkan pandangan lain masyarakat. Sekali lagi, itu cuman harapan, karena saya kira masyarakat sudah terlanjur memiliki persepsi dan argumen sendiri-sendiri tentang Wakil Bupati mereka yang baru tersebut.
Walaupun wakil dari Suyoto yang sewaktu memenangkan pilkada Bojonegoro tersebut masih berstatus Perwira Militer Aktif sempat membuat pernyataan dan permohonan maaf, apakah masalah tersebut akan mampu berhenti begitu saja. Sampai akhirnya Fraksi PDIP dan F Gabungan berusaha menggelar hak angket untuk menanyakan tentang aksi koboi dari Setyo Hartono. Dan yang perlu dipertanyakan lebih lanjut, Yusuf sebagai korban menyatakan dia tidak pernah menjadi korban pemukulan. Walah......Yusuf.....Yusuf......., dan semua itu hanyalah sebagai bagian dari sapaan akrab dari masa lalu mereka di sekolah kedinasan.
Seandainya, Yusuf bukan bawahan dan Hartono bukan atasan, akankah kasus itu hanya berhenti pada pernyataan maaf dan tidak adanya pemukulan? Seandainya kejadian tersebut berlangsung terbalik, Yusuf yang melakukan pemukulan pada Setyo Hartono, akankah Yusuf hanya cukup meminta maaf tanpa berujung pada pemecatan atau mungkin mutasi? Akankah juga Setyo Hartono sebagai Wakil Bupati akan menyatakan tidak pernah ada pemukulan dan itu semua hanyalah wujud sapaan akrab dari alumni kedinasan???
Ingat bung!!! Maaf tak akan pernah menghapus image masyarakat tentang pemimpin mereka. Dan sapaan akrab dalam sebuah kerangka kedinasan, apalagi di hadapan banyak saksi, ada tempatnya sendiri. Silahkan anda memukul bagian mana saja jika itu dapat diartikan sebagai sapaan akrab, namun tutup semua mata saksi yang ada, dan lepas semua atribut yang menempel dalam baju anda. Kalau perlu, lepas atribut jati diri sebagai pejabat dan panutan bagi masyarakat.
Har......militermu itu sudah menjadi bagian masa lalu. Jangan pernah memimpin Bojonegoro dengan tradisi militer, karena rakyat Bojonegoro bukan para serdadu yang siap untuk menerima perintah atasan dan pukulan atasan sebagai teguran. Rakyat Bojonegoro bukan kumpulan keledai bodoh yang harus siap setiap saat menerima pukulan atas kesalahan yang diperbuat. Kalau masih mau menegur, apalagi dengan bahasa yang dapat dimengerti manusia umumnya, Rakyat Bojonegoro pasti mau mendengar dan berubah.
Seandainya sikap tersebut dijadikan sebagai upaya manunggaling pemimpin dan bawahan, siap-siap aja untuk mengubah Bojonegoro menjadi kota koboi. Ketemu, pukul......jadi masalah, minta maaf. Selesai sudah........
ditulis oleh: Sang Fajar @ 9/13/2008 10:39:00 AM   0 comments
Mundurlah Selagi Masih Berstatus Caleg......
Senin, September 01, 2008
Masa pencalegan telah terlewati setahap, dengan penyerahan daftar nama dari parpol kepada KPU. Walaupun pada tahapan ini ada keleluasaan bagi empat parpol untuk menyerahkan berkasnya di kemudian hari setelah mereka baru saja memenangkan putusan MA untuk mengikuti Pemilu 2009.
Tahapan awal pencalegan dan kekecewaan agaknya harus dimulai. Penyusunan daftar nomor urut caleg masih banyak menuai kekecewaan dari orang-orang yang tercantum di dalamnya; apalagi mereka yang namanya tak tercantum, tak perlu ditanyakan lagi tentang kekecewaannya. Jaman di mana nomor bukan lagi persoalan, seperti ketika booming nomer cantik seluler ataupun mistik nomor butut, sepertinya hal tersebut tidak berlaku bagi urutan nomor calon anggota legislatif. Seperti daftar antrian untuk masuk surga, perebutan nomer kecil sepertinya mulai ramai; mengalahkan perebutan nomer kecil dalam daftar tunggu jama'ah haji.
Pada penyerahan daftar caleg, banyak didapati kader-kader yang harus rela bersanding dengan nomer besar di depan nama mereka, walaupun track record mereka dapat dikatakan sangatlah bagus. Integritas, dedikasi, dan loyalitas selama puluhan tahun dalam sebuah kerangka pengabdian harus mengalah pada sebuah kultur nepotisme dalam partai. Sumbangan dan bantuan jutaan, milyaran (atau bahkan trilyunan rupiah?) tak mampu menggantikan saham yang telah terinvestasi atas sebuah nama keluarga dalam kepengurusan partai. Bahkan pengorbanan terhadap kesewenang-wenangan masa lalu harus dilupakan di dalam kesewenang-wenangan masa kini.
Alasan normatif haruslah menjadi pemenang atas segala debat dan kekecewaan. Mekanisme hanyalah sebuah aturan untuk menunjukkan betapa demokrasi telah ditanamkan sejak awal. Bahkan undang-undang rasanya hanya sebagai sebuah produk atas sebuah proses pekerjaan, walau akhirnya tidak pernah diindahkan. Praktik nepotisme tak boleh dilakukan oleh penguasa, namun perkecualian bagi keluarga mereka.
Partai yang bung besarkan, telah benar-benar besar. Besar dengan nama satu atau dua orang tokoh di belakangnya. Besar dengan badan-badan tambun yang menjadi ikon-nya. Besar dengan kesewenang-wenangan yang telah menjadi pengalaman masa lalunya. Paling tidak, seandainya bung tidak berkenan dengan partai yang telah menjadi tempat naungan selama ini, di luar sana masih tersisa banyak partai yang pasti akan dengan senang hati menampung bung di dalamnya; tidak seperti masa lalu yang hanya tersisa 2 partai jika kita tidak cocok dengan partai yang kita miliki. Setidaknya, jika kita tidak cocok dengan kesemuanya, golput-pun kita tidak akan ada yang tahu; bukankah pemilu ini, kemarin, dan nantinya bersifat rahasia.
Seorang penyanyi saja mampu mengukir bait nada dalam lagunya, yang mengutarakan tentang betapa kejamnya politik. Kalau tidak siap berpolitik, siapkan aja modal dari sekarang untuk usaha lain. Bukankah dana bantuan dari BI yang pernah diberikan untuk bung sudah cukup jika hanya untuk merintis sebuah usaha. Atau mungkin 500 juta dari hasil pemilihan deputi senior BI seperti yang pernah digosipkan mampu menambah sedikit modal.
Jangan pernah bung ungkapkan pada rakyat mengenai kekecewaan bung pada parpol, karena rakyat sudah lebih berpengalaman dalam merasakan kekecewaan terhadap parpol dengan janji manis secara berkala 5 tahunan. Karenanya, mundurlah selagi Bung masih berstatus sebagai Caleg; karena dalam sejarah bangsa ini, tidak pernah dituliskan setelah anda benar-benar menjadi anggota legislatif anda akan legawa mengajukan pengunduran diri anda. Kecuali anda dipaksa mundur hanya karena selembar traveller cheque yang bung akui demi menyelamatkan fraksi ataupun sekelompok teman bung yang लें. Sekali lagi, mundurlah sekarang juga jika bung kecewa, sebelum bung dipaksa mundur karena bung ketahuan telah mengecewakan sekretaris bung di gedung dewan yang terhormat.......
Suka atau tidak, itulah keputusan kompromistis jajaran elite partai. Tinggal pertanyaan selanjutnya apakah partai politik mau dibangun atas dasar kompromistis atau mentaati mekanisme aturan main dengan mengesampingkan kepentingan individu dan kelompok. Yang pasti solusinya adalah partai bisa terbangun ketika kolektivitas pimpinan di kedepankan dan dijalankan dengan demokratis dan transparan.
ditulis oleh: Sang Fajar @ 9/01/2008 11:56:00 PM   0 comments
Tentang Aku
Name: Sang Fajar
Home: Bojonegoro, Yogya, Papua, Jatim - DIY - Papua, Indonesia
About Me: Bagi mereka yang merasa berjasa, aku hanyalah sampah. Bagi mereka yang merasa intelek, aku hanyalah pembual. Bagi mereka yang merasa suci, aku hanyalah kotoran. Bagi mereka yang merasa terhormat, aku tak lebihnya seperti orang jalanan. Bagi mereka yang merasa pernah mengenalku, aku sepertinya sudah tak ada. Namun diantara semua anggapan yang pernah ada, semua tentang aku ada karena anggapan-anggapan yang pernah ada......
Data Lengkap

Tulisan Terdahulu
Arsip
Links
Facebook


© . Presented by Fajar Ari Setiawan