.

 
Mesin Pencari


Sisi Lain


Catatan bukan Cacatan

Hubungi Temangsang
My status
Sssstttt.....


Halaman ini telah dibuka sebanyak:
Counter
Prosentase Pengunjung
Data Pengunjung
IP Address Anda


Manusia Setengah Dewa
Senin, Agustus 18, 2008
Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau

Tegakkan hukum setegak-tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa
Sementara lagu Manusia Setengah Dewa-nya Iwan Fals mengalun, sambil duduk di depan monitor dan keyboard yang siap menerima belaian ujung jemari, masih bingung dengan pertentangan batin yang ada di benakku.Besok adalah hari terakhir pendaftaran Calon Legislator ke KPU. Sampai hari ini saya masih menyimpan berkas-berkas pengajuan caleg. Dalam hati masih ada pertentangan batin, akankah saya maju dalam perebutan suara manusia-manusia tak berdosa yang secara rutin dalam jangka waktu 5 tahunan dijejali dan ditipu dengan program-program yang lebih banyak merupakan bualan.Saya masih ingat pembicaraan saya beberapa waktu lalu di Jakarta dengan salah seorang pimpinan partai tingkat propinsi, yang mana sempat menanyakan pada saya apakah saya masih berminat untuk menjadi caleg bagi partainya. Kali ini, pertanyaan itu terulang lagi. Siang minggu kemarin melalui percakapan telepon, saya diminta untuk melengkapi berkas-berkas pencalegan. Bahkan, "beliau" mengatakan pada saya akan memasang nama saya pada urutan nomer 2 bagi daftar caleg tingkat Propinsi dari daerah pemilihan asal saya dilahirkan.
Kembali menyeruak dalam hati kecil saya pertentangan batin; antara nafsu duniawi untuk memilih jalan pintas memperoleh rejeki, dan sebuah harga diri akan masa depan seiringan dengan tanggung jawab yang bakalan diemban. Apalagi melihat nomer 2 yang dijanjikan, seakan-akan menggoda batin untuk segera mengisi berkas, yang saat blog ini ditulis masih tersusun rapi di samping kiri keyboard.
Periode kemarin, dengan hanya bermodal nekat, saya memang sempat maju mengikuti kegiatan rutin penipuan suara rakyat lima tahunan dengan mengobral janji dan omong kosong yang sulit dibuktikan. Kenyataan akan kegagalan di masa lalu, memang memaksa saya untuk berpikir lebih jauh apabila saya ingin mengulang langkah yang sama kali ini.
Beberapa waktu lampau saat dalam obrolan singkat di sebuah hotel di bilangan Jakarta Pusat, saya pernah mengutarakan niatan saya untuk belajar terjun ke politik; tapi bukan untuk saat ini. Bukan untuk periode ini, dimana ilmu saya masih , pemahaman saya akan aspirasi konstituen masih sempit, kekayaan saya untuk menyejahterakan masyarakat hanya cukup untuk makan saya beserta satu istri dan anak.<Saya memang senang dengan liku-liku politis, ibarat kesenangan saya seiring dengan kesengsaraan rakyat akan kelakuan para politisi yang lebih bersifat egosentris. Namun untuk saat ini saya masih merasa belum mampu untuk benar-benar menjadi seorang wakil rakyat; belum mampu secara moral, ekonomi, bahkan etika.Bagaimana tidak, secara moral. saya merasa lebih bejat daripada mereka yang biasa tidur dengan mengenakan dasi di sebuah ruangan sidang. Secara ekonomi, saya merasa tidak memiliki apa-apa untuk dikorupsi guna memperkaya diri; apalagi memperkaya orang lain dan konstituen saya. Secara etika, saya merasa belum siap jika suatu ketika dalam membantu memecahkan permasalahan suatu daerah apabila ada sekretaris daerah atau kepala daerah yang datang pada saya dengan menyodorkan traveller cheque atau wanita untuk memuluskan urusan.
Semoga saya, dalam perenungan malam ini, apapun keputusan saya untuk mengisi dan mengembalikan blanko berkas-berkas ini, ataupun justru membuang tumpukan berkas ini ke dalam tempat sampah; suatu ketika nanti tidak akan menjadi sebuah penyesalan dalam diri saya.
ditulis oleh: Sang Fajar @ 8/18/2008 01:14:00 PM  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
Tentang Aku
Name: Sang Fajar
Home: Bojonegoro, Yogya, Papua, Jatim - DIY - Papua, Indonesia
About Me: Bagi mereka yang merasa berjasa, aku hanyalah sampah. Bagi mereka yang merasa intelek, aku hanyalah pembual. Bagi mereka yang merasa suci, aku hanyalah kotoran. Bagi mereka yang merasa terhormat, aku tak lebihnya seperti orang jalanan. Bagi mereka yang merasa pernah mengenalku, aku sepertinya sudah tak ada. Namun diantara semua anggapan yang pernah ada, semua tentang aku ada karena anggapan-anggapan yang pernah ada......
Data Lengkap

Tulisan Terdahulu
Arsip
Links
Facebook


© . Presented by Fajar Ari Setiawan