.

 
Mesin Pencari


Sisi Lain


Catatan bukan Cacatan

Hubungi Temangsang
My status
Sssstttt.....


Halaman ini telah dibuka sebanyak:
Counter
Prosentase Pengunjung
Data Pengunjung
IP Address Anda


Sabtu, Agustus 30, 2008
Sebelum mengikuti ratas (rapat terbatas) di kantor Kepresidenan di Jakarta pada hari Kamis 7 Agustus 2008, Mensesneg Hatta Radjasa melontarkan rencana memperpanjang masa dinas Kapolri Sutanto. Adanya masukan dari berbagai pihak pada RI-1 untuk mempertahankan Sutanto setelah memasuki usia ke-60 pada bulan September mendatang, disebutkan Hatta banyak datang dari pakar hukum, pejabat Polri, bahkan anggota DPR.
Namun wacana memperpanjang masa jabatan Sutanto sepertinya mendapat ganjalan dari IPW (Indonesian Police Watch) yang justru menginginkan SBY segera mengumumkan nama calon pengganti Sutanto sebelum 30 September 2008 ini. Neta S. Pane selaku Ketua Presidium Indonesia Police Watch, mengemukakan alasan proses kaderisasi sebagai alasan utama penggantian Sutanto, meskipun disadari olehnya bahwa hal tersebut sepenuhnya merupakan hak prerogatif Presiden. Tentu saja desakan tersebut tanpa bermaksud meninggalkan sepenuhnya kenangan atas prestasi Sutanto yang sedikit demi sedikit telah berhasil melakukan make-up atas wajah kepolisian selama ini.
Sepertinya sampai sejauh ini kendali masih ada di tangan SBY. Toh sejarah selalu menunjukkan hal demikian. Tidak pernah tercatat bahwasanya upaya mempertahankan posisi Kapolri akhirnya harus berujung pada lepasnya posisi RI-1. Bisa dikata, walau di lapangan, personel antar TNI dan Polri sering terlibat perselisihan; namun sepertinya SBY dengan background TNI-nya masih ingin bermesraan dengan Sutanto yang kental dengan atribut Polri-nya.
Alumni terbaik Akpol 1973 tersebut dulu dilantik menggantikan Jend. Pol. Da'i Bachtiar setelah melalui hasil aklamasi pemilihan oleh DPR setelah proses fit and proper test. Sepertinya, tradisi dalam kemiliteran untuk merangkul teman-teman satu angkatan sulit dihilangkan. Hal ini terbuktikan dengan dua nama lain yaitu Laksamana Slamet Soebijanto dan Marsekal Djoko Suyanto yang turut berkibar di bawah kepemimpinan SBY; sebagai tim puncak angkatan 73 dari masing-masing kesatuan.
Awalnya, Sutanto sulit diprediksi akan menjadi Kapolri. Apalagi setelah mutasi jabatan dari Kapolda Jatim menjadi Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri pada tahun 2002 pasca gebrakan Sutanto dalam menangkap Sundono alias Jhonson Limuel Lim, Presiden dari negeri Illegal Logging di Jatim. Namun sejarah mencatat berbeda, begitu SBY memegang pucuk pimpinan, Sutanto kembali dimutasi pada tahun 2005 menjadi Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional, dan akhirnya menjadi Kapolri.
Kembali pada masalah perpanjangan masa jabatan Sutanto, sepertinya memang kita sudah digiring pada situasi pemilu 2009. Walaupun saat ini sudah memasuki masa kampanye, pendaftaran caleg, dll; namun dengan perpanjangan masa jabatan Sutanto, seakan-akan kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa netralitas dan profesionalisme dalam Polri kancah pemilu adalah gambaran Sutanto itu sendiri.
Seakan-akan SBY takut terhadap pengganti Sutanto apabila tidak mampu melaksanakan program, target dan jangkauan sebagus Sutanto, atau bahkan memenuhi penjara dan lapas dengan para pecandu, koruptor, dan maling kelas teri sebagaimana hasil tangkapan barisan Sutanto selama ini. Bukankah Pemilu 2009 mendatang juga merupakan pertaruhan SBY pula? Bahkan dalam masa-masa akhir ini, adalah masa kritis. Di mana peran terbaik yang pernah diraih akan dilupakan seketika apabila sebuah kegagalan kecil menyeruak ke publik, catatan-catatan merah akan menonjol seakan berkeingin membutakan mata dan menutup pada lembaran putih yang pernah dibangun.
ditulis oleh: Sang Fajar @ 8/30/2008 09:49:00 PM   0 comments
Manusia Setengah Dewa
Senin, Agustus 18, 2008
Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau

Tegakkan hukum setegak-tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa
Sementara lagu Manusia Setengah Dewa-nya Iwan Fals mengalun, sambil duduk di depan monitor dan keyboard yang siap menerima belaian ujung jemari, masih bingung dengan pertentangan batin yang ada di benakku.Besok adalah hari terakhir pendaftaran Calon Legislator ke KPU. Sampai hari ini saya masih menyimpan berkas-berkas pengajuan caleg. Dalam hati masih ada pertentangan batin, akankah saya maju dalam perebutan suara manusia-manusia tak berdosa yang secara rutin dalam jangka waktu 5 tahunan dijejali dan ditipu dengan program-program yang lebih banyak merupakan bualan.Saya masih ingat pembicaraan saya beberapa waktu lalu di Jakarta dengan salah seorang pimpinan partai tingkat propinsi, yang mana sempat menanyakan pada saya apakah saya masih berminat untuk menjadi caleg bagi partainya. Kali ini, pertanyaan itu terulang lagi. Siang minggu kemarin melalui percakapan telepon, saya diminta untuk melengkapi berkas-berkas pencalegan. Bahkan, "beliau" mengatakan pada saya akan memasang nama saya pada urutan nomer 2 bagi daftar caleg tingkat Propinsi dari daerah pemilihan asal saya dilahirkan.
Kembali menyeruak dalam hati kecil saya pertentangan batin; antara nafsu duniawi untuk memilih jalan pintas memperoleh rejeki, dan sebuah harga diri akan masa depan seiringan dengan tanggung jawab yang bakalan diemban. Apalagi melihat nomer 2 yang dijanjikan, seakan-akan menggoda batin untuk segera mengisi berkas, yang saat blog ini ditulis masih tersusun rapi di samping kiri keyboard.
Periode kemarin, dengan hanya bermodal nekat, saya memang sempat maju mengikuti kegiatan rutin penipuan suara rakyat lima tahunan dengan mengobral janji dan omong kosong yang sulit dibuktikan. Kenyataan akan kegagalan di masa lalu, memang memaksa saya untuk berpikir lebih jauh apabila saya ingin mengulang langkah yang sama kali ini.
Beberapa waktu lampau saat dalam obrolan singkat di sebuah hotel di bilangan Jakarta Pusat, saya pernah mengutarakan niatan saya untuk belajar terjun ke politik; tapi bukan untuk saat ini. Bukan untuk periode ini, dimana ilmu saya masih , pemahaman saya akan aspirasi konstituen masih sempit, kekayaan saya untuk menyejahterakan masyarakat hanya cukup untuk makan saya beserta satu istri dan anak.<Saya memang senang dengan liku-liku politis, ibarat kesenangan saya seiring dengan kesengsaraan rakyat akan kelakuan para politisi yang lebih bersifat egosentris. Namun untuk saat ini saya masih merasa belum mampu untuk benar-benar menjadi seorang wakil rakyat; belum mampu secara moral, ekonomi, bahkan etika.Bagaimana tidak, secara moral. saya merasa lebih bejat daripada mereka yang biasa tidur dengan mengenakan dasi di sebuah ruangan sidang. Secara ekonomi, saya merasa tidak memiliki apa-apa untuk dikorupsi guna memperkaya diri; apalagi memperkaya orang lain dan konstituen saya. Secara etika, saya merasa belum siap jika suatu ketika dalam membantu memecahkan permasalahan suatu daerah apabila ada sekretaris daerah atau kepala daerah yang datang pada saya dengan menyodorkan traveller cheque atau wanita untuk memuluskan urusan.
Semoga saya, dalam perenungan malam ini, apapun keputusan saya untuk mengisi dan mengembalikan blanko berkas-berkas ini, ataupun justru membuang tumpukan berkas ini ke dalam tempat sampah; suatu ketika nanti tidak akan menjadi sebuah penyesalan dalam diri saya.
ditulis oleh: Sang Fajar @ 8/18/2008 01:14:00 PM   0 comments
Tentang Aku
Name: Sang Fajar
Home: Bojonegoro, Yogya, Papua, Jatim - DIY - Papua, Indonesia
About Me: Bagi mereka yang merasa berjasa, aku hanyalah sampah. Bagi mereka yang merasa intelek, aku hanyalah pembual. Bagi mereka yang merasa suci, aku hanyalah kotoran. Bagi mereka yang merasa terhormat, aku tak lebihnya seperti orang jalanan. Bagi mereka yang merasa pernah mengenalku, aku sepertinya sudah tak ada. Namun diantara semua anggapan yang pernah ada, semua tentang aku ada karena anggapan-anggapan yang pernah ada......
Data Lengkap

Tulisan Terdahulu
Arsip
Links
Facebook


© . Presented by Fajar Ari Setiawan