.

 
Mesin Pencari


Sisi Lain


Catatan bukan Cacatan

Hubungi Temangsang
My status
Sssstttt.....


Halaman ini telah dibuka sebanyak:
Counter
Prosentase Pengunjung
Data Pengunjung
IP Address Anda


Pilgub Jatim: Akhirnya PDI P Jatim Harus Sadar Diri.....
Rabu, Juli 23, 2008
Pemilihan Gubernur secara langsung Propinsi Jawa Timur telah digelar hari Rabu, 23 Juli 2008 ini. Seakan seperti bukan sebuah kejutan lagi, akan munculnya calon yang dikuya-kuya oleh berbagai parpol, termasuk parpol kondang, untuk memenangi pilgub ini. Hasil Quick Count tiga lembaga survei terkemuka di Indonesia yang telah seringkali teruji, memenangkan pasangan KarSa (Soekarwo-Syaifullah Yusuf) sebagai pemenang; meski tak mencapai angka 30% yang berarti harus menjalani putaran kedua.
Beberapa hal menarik menyimak perjalanan pemilihan gubernur secara langsung untuk yang pertama kali di Jawa Timur ini. Partai politik raksasa yang merajai perolehan suara pemilu 2004 di Jawa Timur, yaitu PDI Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa, terlihat semakin malu-malu dalam menambah pundi-pundi perolehan suaranya. PKB sebagai pemenang pertama di Jatim dalam dua kali pemilu pasca reformasi bersama runner-up nya PDI P harus menelan pil pahit saat perolehan suara Cak Karwo dan Gus Ipul disusul oleh pasangan Khofifah dan Mudjiono.
PKB yang menjagokan Achmady yang notabene merupakan bupati aktif Mojokerto (sampai akhirnya mengundurkan diri setelah resmi mendaftar sebagai Cagub), mungkin harus menyadari diri bahwa dukungan penuh Gus Dur yang pernah dia peroleh ternyata tak mampu mendongkrak suaranya; bahkan membayar tebusan atas pengunduran dirinya sebagai bupati Mojokerto. Bukankah di Jatim Gus Dur sudah cukup berkharisma, jikalau hanya untuk menunjukkan Achmady sebagai calonnya?
Demikian pula dengan PDI P. Dengan modal 4,5 juta suara yang pernah diperoleh pada pemilu 2004, berbagai sinyalemen para politikus (terutama eks politikus PDI P) yang pernah saya temui dan ngobrol bersama tentang kemungkinan yang terjadi pada Pilgub Jatim kali ini, telah terbukti untuk kesekian kalinya jika massa PDI P tidak menghendaki SOetjipto sebagai pemimpinnya. Soetjipto tak mampu mengukir kemenangan seperti halnya pada Pilgub Jateng, Bali dan tempat lain. Beruntung, Megawati tidak pernah menaruh taruhannya untuk maju pada Pilpres 2009 berdasar hasil Pilgub Jatim, walau Mega sendiri juga turut naik-turun panggung untuk ikut aktif mengkampanyekan Soetjipto.
Berbagai forum dan respon massa yang tersurat dalam berbagai media online yang saya baca, seakan bergembira dengan kekalahan Soetjipto ini. Sekali lagi, tidak sedikit pula yang memberikan keharusan pada PDI P, Soetjipto khususnya, untuk segera sadar diri. Kesadaran diri bukan terkait dengan hasil yang diperoleh, tapi bagi saya, lebih merupakan kesadaran diri akan gembar-gembor PDI P selama ini yang mengklain diri sebagai partai ne wong cilik.
Bagaimana mungkin PDI P yang mengklaim diri seperti itu ternyata harus meninggalkan suara wong cilik? Betapa tidak, jika kita menoleh ke belakang beberapa saat silam, saat penjaringan Balon Cagub dari PDI P; yang mana banyak suara dan dukungan diberikan pada Cak Karwo yang notabene saat itu adalah Sekda Propinsi Jatim. Namun suara wong cilik bukanlah keputusan wong gedhe. Usulan rekomendasi dari DPD PDI P Jatim kepada DPP PDI P khususnya Megawati, mengajukan dua nama Soetjipto dan Soekarwo untuk mendapatkan rekomendasi.
Dari usulan itulah dapat diduga, tanpa harus memiliki ilmu linuwih tentang weruh sakdurunge winarah, massa yang paling bodoh dan buta tentang politik sudah dapat menduga jika unggulan Cagub pasti akan diberikan pada Soetjipto. Mega seakan telah menutup mata terhadap hasil rakercabsus yang banyak mendukung Cak Karwo. Kedekatan Megawati dan Soetjipto seakan telah menutup aspirasi massa pendukung. Barangkali bebek goreng-bebek goreng asli Surabaya yang selama ini selalu dibawa Soetjipto ke Jakarta sebagai oleh-oleh untuk Megawati, telah membuat Mega lupa pada arti penting dukungan grass root. Mega telah melupakan bagaimana sosok yang pernah menjadi Sekjend-nya itu tidak pernah menorehkan prestasi yang membanggakan bagi dirinya dan partainya. Mega telah lupa ingatan, kala pemilu 1999 saat Soetjipto menjadi ketua DPD PDI P Jatim, PDI P yang panen suara di berbagai menelan kekalah an di Jawa Timur. Mega juga seakan tak mau tahu, tentang prestasi terburuk PDI P yang adalah ketika Sekjend nya dijabat oleh Soetjipto.
Sosok Soekarwo kini telah menjadi Megawati. Pernah disia-siakan oleh partai yang bernama PDI P, namun akhirnya justru mendapat kemenangan telak melebihi jago dari PDI P. Sekali lagi, untung Megawati tidak pernah menaruh taruhan maju tidaknya dia dalam Pilpres 2009 pada hasil Pilgub Jatim seperti yang pernah dilakukannya terhadap Pilgub Jateng. Rupanya Mega sendiri masih berhati-hati, walaupun PDI P telah ceroboh dan terperosok.
Mega tahu, dalam perhitungannya, PDI P tidak akan pernah memenangi Pilgub Jatim ini. Karenanya, dipilihlah sosok Soetjipto untuk mendapat rekomendasinya maju dalam pertarungan. Mega berpikir, dia akan mencari sosok yang walau kalah dalam pemilihan namun masih mau turut mengurusi PDI P. Bolehlah kita acungi jempol untuk prediksi kekalahan oleh Mega kali ini. Namun, sembari demikian, kita juga menunggu; akankah Soetjipto yang dipikir oleh Mega walau kalah masih tetap mau mengurusi PDI P adalah sosok yang benar-benar tepat sebagai orang yang mengabdikan dirinya untuk PDI P??? Banyak yang bilang, "Tjip kok ngurusi partai........"
ditulis oleh: Sang Fajar @ 7/23/2008 10:30:00 PM  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
Tentang Aku
Name: Sang Fajar
Home: Bojonegoro, Yogya, Papua, Jatim - DIY - Papua, Indonesia
About Me: Bagi mereka yang merasa berjasa, aku hanyalah sampah. Bagi mereka yang merasa intelek, aku hanyalah pembual. Bagi mereka yang merasa suci, aku hanyalah kotoran. Bagi mereka yang merasa terhormat, aku tak lebihnya seperti orang jalanan. Bagi mereka yang merasa pernah mengenalku, aku sepertinya sudah tak ada. Namun diantara semua anggapan yang pernah ada, semua tentang aku ada karena anggapan-anggapan yang pernah ada......
Data Lengkap

Tulisan Terdahulu
Arsip
Links
Facebook


© . Presented by Fajar Ari Setiawan