.

 
Mesin Pencari


Sisi Lain


Catatan bukan Cacatan

Hubungi Temangsang
My status
Sssstttt.....


Halaman ini telah dibuka sebanyak:
Counter
Prosentase Pengunjung
Data Pengunjung
IP Address Anda


Pemilu.....Pemilu....dan Pemilu....!!!
Selasa, Juli 22, 2008
Mendekati akhir tahun 2008, bukan gelegar semangat tahun baru di penghujung dasawarsa abad ke 21 yang ramai; bukan pula goresan kisah napak tilas 100 tahun semangat sumpah pemuda. Namun warna akhir tahun 2008 ini terasa lebih berwarna-warni di setiap pelosok negeri.
Warna-warni yang menghiasi sudut-sudut negeri bukan karena keberhasilan negeri ini untuk bangkit dari lubang krisis keuangan, bukan pula warna-warni kemerdekaan anak bangsa yang merayakan kebahagiaannya dari lepasnya bencana yang selalu menghantam negeri ini; bukan juga luapan gembira kaum papa yang mendapat tambahan teman dalam kemiskinan sebagai akibat masyarakat yang selama ini menyingkirkannya.
Corak warna-warni yang menghiasi negeri ini, dalam agenda rutin 5 tahunan untuk menguras dan kesempatan mengeluarkan anggaran negara, dikemas dalam bentuk Pemilu. Pemerintah boleh bilang pemilu adalah pemilihan umum; karena itu hak pemerintah yang membuat akronim, sebagaimana mereka yang merasa memiliki negeri ini. Namun, akankah pemilu kedua dalam proses pemilihan presiden secara langsung, dan pemilu ketiga pada masa reformasi ini akan berjalan mulus; sebagaimana mulusnya paha para wanita tuna susila yang menanti datangnya pria langganannya?
Jujur, saya pernah peduli dengan pemilu. Saya pernah peduli dengan urutan calon legislatif yang terpampang bak absen orang-orang yang menanti giliran untuk mendapatkan kekayaan. Saya pernah peduli terhadap pemilu dengan terlibat aktif sebagai pengurus parpol sekaligus tercantum dalam absen calon orang yang bakal kaya mendadak dalam jangka waktu 5 tahun. Saya pernah skeptis dengan pemilu karena dalam lima tahun hanya menghasilkan prestasi itu-itu saja dengan slogan yang itu-itu pula. Saya juga pernah tidak peduli sama sekali dengan pemilu, seperti saat ini, di kala saya merasa tidak punya uang lagi untuk membiayai sebuah parpol; apalagi membiayai pengerahan massa untuk berkumpul dalam suatu lapangan terbuka guna mendengarkan orasi, bak menggiring kawanan ternak dalam lapangan rumput untuk mendengarkan desau angin.
Pemilu sudah seringkali dilaksanakan. Presiden sudah seringkali berganti. Parpol sudah seringkali kampanye. Caleg sudah seringkali berjanji. Tim sukses-pun sudah seringkali pula kesana kemari dengan amplop yang mereka katakan sebagai ungkapan terima kasih atas sebuah dukungan.
Namun kapankah euforia lima tahunan bangsa ini mampu membawa kita pada sebuah tatanan kehidupan yang benar-benar mapan? Bukan hanya sekedar janji muluk-muluk dan slogan omong kosong. Bukan hanya sekedar tawaran manis para caleg yang begitu mudah dilupakan sementara kaos yang pernah dibagikan belum sempat memudar?
Perubahan daftar parpol mulai marak pasca era reformasi. Perubahan komposisi caleg sudah terjadi seringkali, walau hanya perpindahan nomor urut, sementara wajah-wajah yang mempunyai nama yang terpampang masihlah tetap. Pergantian presiden juga sudah kita alami. Namun, ternyata ada yang belum berubah selama pelaksanaan pemilu dari masa ke masa.
Pertama, adalah perubahan kepentingan. Sampai kapankah pergesekan kepentingan antar parpol dan bahkan antar pengurus parpol akan berakhir? Di mana mereka mampu berubah total dengan meniadakan perebutan kepentingan, dengan duduk bersama-sama guna memikirkan kepentingan rakyat. Sepertinya memang sebuah pergesekan kepentingan telah menjadi faktor hakiki dalam lingkungan duniawi.
Kedua, adalah perubahan hasil. Sampai kapankah rakyat harus menunggu sebuah proses demokrasi yang benar-benar memberikan hasil dengan perubahan tatanan masyarakat, khususnya perubahan positif ke arah kesejahteraan rakyat? Rakyat tidak akan pernah peduli dengan komentar-komentar yang mengatakan pemilu kali ini paling demokratis; rakyat tidak pernah peduli dengan analisa-analisa yang mengatakan pemilu telah menghasilkan pemerintahan yang bersih.
Hanya satu kiranya yang diinginkan rakyat dalam sebuah pemilu. Dana besar bagi hajatan parpol akan mampu mengubah dan memberikan dampak positif bagi kemajemukan rakyat. Dan kiranya, hal demikian akan menjadi isapan jempol, selama asas kepentingan masih di atas segalanya. Jangankan praktisi hukum yang berbicara, jangankan politikus ulung yang usul, jangankan presiden yang memiliki agenda; apalagi jangankan saya yang belum pernah memberikan kontribusi yang berarti bagi bangsa dengan menulis dalam blog ini.............
ditulis oleh: Sang Fajar @ 7/22/2008 12:02:00 AM  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
Tentang Aku
Name: Sang Fajar
Home: Bojonegoro, Yogya, Papua, Jatim - DIY - Papua, Indonesia
About Me: Bagi mereka yang merasa berjasa, aku hanyalah sampah. Bagi mereka yang merasa intelek, aku hanyalah pembual. Bagi mereka yang merasa suci, aku hanyalah kotoran. Bagi mereka yang merasa terhormat, aku tak lebihnya seperti orang jalanan. Bagi mereka yang merasa pernah mengenalku, aku sepertinya sudah tak ada. Namun diantara semua anggapan yang pernah ada, semua tentang aku ada karena anggapan-anggapan yang pernah ada......
Data Lengkap

Tulisan Terdahulu
Arsip
Links
Facebook


© . Presented by Fajar Ari Setiawan