.

 
Mesin Pencari


Sisi Lain


Catatan bukan Cacatan

Hubungi Temangsang
My status
Sssstttt.....


Halaman ini telah dibuka sebanyak:
Counter
Prosentase Pengunjung
Data Pengunjung
IP Address Anda


Idealisme vs Materialisme
Minggu, Juni 08, 2008
Sekilas teringat akan ucapan Mao Zedong (Hanzi: 毛澤東) (Shaoshan, Hunan, 26 Desember 1893 – Beijing, 9 September 1976), seorang pendiri negara Republik Rakyat Tiongkok sekaligus Presiden pertama Republik Rakyat China (27 September 1954 – 27 April 1959); tentang arti sebuah konflik.
Di mana menurut Zedong konflik bersifat semesta dan absolut, hal ini ada dalam proses perkembangan semua barang dan merasuki semua proses dari mula sampai akhir. Lebih lanjut Zedong menjelaskan kekekalan atau keabadian konflik dalam pemikirannya sebelum mencapai tingkat keharmonisan. Menurutnya konflik merupakan dasar daripada sesuatu bentuk disiplin ilmu pengetahuan, dengan beberapa contoh: bilangan negatif dan positif dalam matematika, aksi dan reaksi dalam ilmu mekanika, aliran listrik positif dan negatif dalam ilmu fisika, daya tarik dan daya tolak dalam ilmu kimia, konflik kelas dalam ilmu sosial, penyerangan dan pertahanan dalam ilmu perang, idealisme dan materialisme serta perspektif metafisika dan dialektik dalam ilmu filsafat dan seterusnya.
Manajemen konflik sebagai penjembatan dalam upaya pencapaian harmonisasi penyelesaian konflik tidak dapat menjamin seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjinakkan atau bahkan meredam sebuah konflik dan merangkainya dalam sebuah harmonisasi. Mediasi sebagai sarana penengah konflik juga belum tentu mampu memberikan estimasi bagaimana sebuah penyelesaian konflik dapat diakhiri sebagaimana sebuah film India yang selalu berakhir dengan Happy End.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, konflik juga sering turut mewarnai perjalanan kita. Terasa atau tidaknya sebuah gejolak konflik bagiku, dapat diukur melalui sejauh mana cara aku melakukan manajemen konflik terhadap kepentingan yang muncul. Mampu tidaknya kita mengatasi konflik atas nama berbagai hal tersebut, dapat pula dirasakan melalui mediasi; walau akhirnya diperlukan sebuah konfrontasi.
Sebenernya aku lama ga ada nulis di blog ini, kangen juga pengen nulis atau sekedar membuat coretan sekedar pengingat akan sebuah pengalaman, perjalanan, kenyataan, atau bahkan pemikiran dalam hidup ini. Namun kenyataan tentang aktivitas dan kesibukan keseharianku, seakan membuat satu konflik ringan antara keinginan menulis blog dan kesempatan yang tak kunjung datang.
Kembali pada pemikiran Mao Zedong tersebut di atas, ada satu hal menarik yang tiba-tiba membuat aku mencoba menggali lebih jauh melalui dunia maya. Tentang pertentangan konflik antara kepentingan idealisme dan materialisme. Ibarat air dan minyak barangkali memang hal itu tidak bisa disatukan.
Namun bagaimana jika pengambilan posisi dalam pertentangan kutub itu telah ditentukan? Misal seseorang telah terlanjur men-cap kita sebagai seorang yang terlalu idealis, sehingga susah untuk dibelokkan keinginan hati dan selalu keukeuh dengan pendirian; akankah dalam posisi demikian kita akan melihat orang lain sebagai seorang yang semata-mata mengejar keinginan materialis?
Uniknya hal demikian pernah juga aku alami tanpa sengaja. Bagaimana ketika seseorang dalam keluargaku secara tegas di belakangku dan secara lantang sembunyi dari hadapanku berteriak jika aku terlalu idealis untuk sedikit mengalah demi kepentingan orang lain. Memang aku akui, seringkala (bolehkah jika mengungkap demikian sebagai konflik atas kata "kadangkala"?) aku enggan untuk mengalah, baik itu sekedar permasalahan ide, gagasan, pemikiran, ataupun perbuatan. Bagiku, kalau memang salah, biarkan kesalahan itu sendiri yang menampar aku dan menarik rambutku untuk menghadapkan mukaku melihat kesalahan itu.
Terhadap peran konflik tentang materialis sebagai pertentangan terhadap idealisme tersebut, setidaknya aku masih bisa bersyukur. Dengan idealisme yang sedikit masih tersisa untuk bukti eksistensi diri tersebut, setidaknya dunia tidak bermurah hati mengubah jiwaku menjadi sebuah jiwa materialis dengan melihat berbagai kenikmatan yang mungkin melenakanku. Setidaknya idealisme yang aku miliki masih menyisakan rasa malu dalam diri untuk sekedar mengejar materi yang jika kita sadari di dunia ini lebih banyak dimiliki orang lain daripada diri kita sendiri. Setidaknya idealisme yang aku miliki masih menyisakan kewarasan dalam diriku untuk mengakui bahwasanya materialis yang dimiliki oleh saudara-saudaraku itu diriku termasuk memilikinya.
Setidaknya.....idealisme yang aku miliki memberi semangat bagi diriku untuk menjadi diriku seperti yang aku mau, daripada sekedar membanggakan orang lain karena tidak ada yang patut dibanggakan dari diriku sendiri; dan berharap dari kebanggaan akan prestasi orang lain tersebut ada orang yang turut berbangga melihatku......
ditulis oleh: Sang Fajar @ 6/08/2008 07:08:00 PM  
1 Comments:
  • At Sabtu, Juni 27, 2009 1:03:00 PM, Anonymous Anonim said…

    Saya menyukai tulisan bapa. Dengan sedikit idealisme moga kita merubah sistem yang ada. Yang membuat kita mau tak mau berorientasi pada nilai.

     
Posting Komentar
<< Home
 
Tentang Aku
Name: Sang Fajar
Home: Bojonegoro, Yogya, Papua, Jatim - DIY - Papua, Indonesia
About Me: Bagi mereka yang merasa berjasa, aku hanyalah sampah. Bagi mereka yang merasa intelek, aku hanyalah pembual. Bagi mereka yang merasa suci, aku hanyalah kotoran. Bagi mereka yang merasa terhormat, aku tak lebihnya seperti orang jalanan. Bagi mereka yang merasa pernah mengenalku, aku sepertinya sudah tak ada. Namun diantara semua anggapan yang pernah ada, semua tentang aku ada karena anggapan-anggapan yang pernah ada......
Data Lengkap

Tulisan Terdahulu
Arsip
Links
Facebook


© . Presented by Fajar Ari Setiawan