.

 
Mesin Pencari


Sisi Lain


Catatan bukan Cacatan

Hubungi Temangsang
My status
Sssstttt.....


Halaman ini telah dibuka sebanyak:
Counter
Prosentase Pengunjung
Data Pengunjung
IP Address Anda


Pendatang Baru di Keluarga Kami
Minggu, April 20, 2008

Pagi jam 7 aku dan istriku diantara dua perawat dirujuk ke rumah sakit untuk melanjutkan proses kelahiran anak pertama kami. Ketuban yang telah pecah malam sebelumnya seakan-akan belum berhenti mengalir dari rahim istriku. Sampai di rumah sakit memang kami tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu pelayanan. Begitu istriku ditempatkan di ruang bersalin, langsung suntikan pertama pemacu kelahiran bayi diberikan oleh dokter pada istriku. Waktu itu, harapannya paling tidak nanti jam 14.00 bayi sudah berhasil dikeluarkan, karena pada saat itu kondisi jalan rahim istriku masih pada kondisi pembukaan 1.
Jam 09.00, masih di samping pembaringan istriku, aku melihat raut muka kesakitan yang tak tertahan. Keluhan akan rasa sakit akibat desakan dari dalam perut, seakan tak dihiraukan lagi berbanding dengan kebahagiaan yang bakal kami rasakan nantinya. Karena sudah merasa tidak tahan lagi melihat istriku menahan rasa sakit, akhirnya dokter yang memeriksa memutuskan untuk kembali memberikan suntikan pemicu agar bayi dalam kandungan mau keluar, mengingat kondisi saat itu masih pembukaan 1, kondisi yang sama pada saat ketuban pecah malam sebelumnya.

Jam 10.30 WIB, mungkin karena sudah tidak mampu menahan lagi, sementara kondisi pembukaan jalan rahim tetap tidak berubah, akhirnya dokter memutuskan untuk memberikan lagi suntikan pemacu ketiga kalinya. Aku yang tidak merasakan sakit secara langsung, masih sempat mengingat bagaimana menahan air mata ini untuk tidak terjatuh. Di hadapanku, sesosok wanita yang akan menjadi seorang ibu tengah berjuang bagi sebuah kehidupan baru dengan mempertaruhkan kehidupannya.
Sekilas menerawang pikiranku jauh ke masa silam, saat masih sering dengan egoku melawan dan mempermainkan perasaan seorang ibu. Sebagai laki-laki aku tidak pernah dan tak akan pernah merasakan sakit sedemikian; dalam sebuah perjuangan untuk sebuah kehidupan masa depan. Terasa lemas lututku untuk menopang tubuhku yang berdiri di samping pembaringan istriku. Pikiran terlintas, bagaimana bisa, di luar sana banyak yang berlaku semena-mena terhadap seorang wanita; apakah mereka tidak pernah melihat apa yang tengah aku lihat dengan kedua bola mataku saat ini?

Aku tidak pernah merasakan sakit saat sepasang gigi istriku menggigit lengan tanganku; karena biarpun bagaimana aku yakin sakit yang dia rasakan jauh lebih sakit dari sekedar gigitan itu. Saat sebentuk kepala mulai keluar dari jalannya, aku tak pernah menyesali merasakan kerasnya cakaran tangan istriku saat mengejan; karena aku tahu perjuangan yang dia lakukan jauh lebih berarti dari sekedar sebuah cakaran.
Dari awal proses kelahiran, pada proses pengguntingan jalan untuk anakku karena tidak ada kemajuan proses pembukaan, sampai pada keluarnya sebentuk nyawa yang akan menyebutku bapak dikemudian hari kelak; serasa aku masih tidak percaya. Bayi yang lahir tanpa mengeluarkan tangisan itu anakku..... lahir tepat pada pukul 11.15 WIB dengan berat 3,4 kg.
Lengkap sudah rasanya kebahagiaan dalam diriku, terasa genap sudah perjuangan dalam batinku, bermakna sudah dukungan moral dalam pendampinganku. Terima kasih Tuhan, tlah Kau beri kami kepercayaan untuk menjadi sepasang orang tua. Melalui pengalaman dan perjuangan ini, yakinkan kami kelak tidak akan pernah menyia-nyiakan buah hati kami.........
ditulis oleh: Sang Fajar @ 4/20/2008 11:30:00 PM   0 comments
Detik-detik menegangkan.....
Sabtu, April 19, 2008
Ga seperti biasanya, malam ini istriku suruh aku pulang ke rumah cepet. Katanya minta diantar beli nasi di warung angkringan dekat pondok mertua indah. Padahal di rumah juga ada nasi lengkap ama sayurnya. Mungkin karena emang permintaan jabang bayi, mau ga mau aku nurutin aja.
Dah gitu, mintanya lagi ntar kalo beli jalan kaki aja. Wadawww......padahal ngebayangin jaraknya aja dah lumayan jauh. Terpaksa deh aku nurutin, kata orang tua setiap permintaan orang hamil tuh jabang bayinya yang pesen.
Abis makan, istriku ngajakin langsung pulang. Katanya dah capek banget. Aku maklum aja, soalnya dia juga dah hamil tua. Kelewat tua mungkin bagiku, karena HPL jabang bayi juga dah lewat hampir seminggu.
Sampai rumah, setelah istriku pamit mau tidur, aku juga pamit mau keluar bentar cari angin. Belum sempat jauh dari rumah, ibu mertua dah telpon bilang kalau istriku dah hampir melahirkan karena ketubannya pecah di rumah. Wah, langsung aja aku putar kendaraan dan pulang untuk jemput istriku dan mengantar ke bidan.
Dari awal emang istriku punya permintaan untuk melahirkan secara normal di bidan aja. Karena selama kehamilan dia banyak dengar cerita orang yang sudah pernah melahirkan beberapa kali, kalau ditangani oleh bidan katanya lebih sabar daripada ditangani oleh dokter. Demikian pula malam ini, aku mengantar ke bidan Fajar (hehehhe....namanya sama), bidan langganan istriku selama memeriksakan kehamilan.
Di bidan memang tidak ada penanganan sama sekali, hanya diperiksa kondisi kandungan dan disarankan untuk istirahat malam ini agar besok pagi-pagi benar dapat dibawa ke rumah sakit. Ga terbayangkan gimana mau tidur malam ini, sementara terpikir terus air ketuban yang tak henti-hentinya mengalir dari perut istriku.
ditulis oleh: Sang Fajar @ 4/19/2008 10:22:00 PM   0 comments
Blogger Juga Manusia......
Kamis, April 03, 2008
Buat para blogger yang kebetulan temangsang di halaman ini, sekedar melepas kepenatan atas aktivitas selama ini, serta membuang waktu yang terasa sangat luang; silahkan anda mencoba permainan ringan berikut ini.
ditulis oleh: Sang Fajar @ 4/03/2008 09:02:00 PM   0 comments
Tentang Aku
Name: Sang Fajar
Home: Bojonegoro, Yogya, Papua, Jatim - DIY - Papua, Indonesia
About Me: Bagi mereka yang merasa berjasa, aku hanyalah sampah. Bagi mereka yang merasa intelek, aku hanyalah pembual. Bagi mereka yang merasa suci, aku hanyalah kotoran. Bagi mereka yang merasa terhormat, aku tak lebihnya seperti orang jalanan. Bagi mereka yang merasa pernah mengenalku, aku sepertinya sudah tak ada. Namun diantara semua anggapan yang pernah ada, semua tentang aku ada karena anggapan-anggapan yang pernah ada......
Data Lengkap

Tulisan Terdahulu
Arsip
Links
Facebook


© . Presented by Fajar Ari Setiawan