.

 
Mesin Pencari


Sisi Lain


Catatan bukan Cacatan

Hubungi Temangsang
My status
Sssstttt.....


Halaman ini telah dibuka sebanyak:
Counter
Prosentase Pengunjung
Data Pengunjung
IP Address Anda


RUU ITE
Senin, Maret 24, 2008
Panitia kerja (Panja) Rancangan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) memulai hajatan baru dalam persiapan pengesahan RUU ITE menjadi UU ITE.
M Nuh selaku Menkominfo menginformasikan bahwa draft RUU tersebut akan disahkan dalam rapat paripurna DPR Selasa besok. Semoga informasi yang disampaikan tersebut benar-benar terwujud, sehingga bukan lagi merupakan informasi yang didasarkan "atas petunjuk belaka".
RUU ITE yang rencananya akan disahkan besok pagi tersebut, banyak mengatur perihal transaksi elektronik berupa transasksi perbankan ataupun komunikasi. Termasuk di dalamnya mengenai pelarangan situs-situs porno, walaupun kita tidak bertransaksi????
Sebagai acuan hukum, RUU ITE yang akan menjadi UU ITE diharapkan mampu menjadikan benteng pengaman di dunia maya, namun hanya di belahan Indonesia saja.
Memang tak dapat dipungkiri, perkembangan informasi teknologi di Indonesia berkembang sangat pesat sekali. Penyampaian informasi melalui dunia maya di belahan Indonesia seakan-akan masih menjadi hal yang bersifat maya. Dari informasi terkini dunia politik, kriminal, gosip, sampai esek-esek; sekarang bukan hal yang sulit dicari di internet.
Sekarang......dengan rencana diberlakukannya RUU ITE, sedikit menjadi ancaman bagi penggemar esek-esek di dunia maya. Bagaimana tidak, jika pemerintah berniat untuk memblokir semua situs yang berbau porno untuk beredar secara bebas di internet. Ya....RUU ITE yang diajukan mulai tahun 2005 diharapkan mampu mengembalikan (atau menggeser???)peran dunia teknologi informasi di Indonesia sebagai penyambung lidah informasi secara bebas.
Dengan diberlakukannya RUU ITE, bagi pemilik warnet bisa jadi akan mengurangi sedikit omzet yang diperolehnya karena user yang menjelajah dunia maya untuk tujuan esek-esek tidak menemukan yang dicari. Namun mungkin bagi pemilik warnet pula, bisa sedikit bernafas lega.... karena mungkin bau amis dan bercak lengket yang selama ini mengotori warnetnya sedikit berkurang.
Kembali menyoal masalah pornografi, seharusnya lebih lanjut dan mendalam disoroti tentang batasan pornografi yang dimaksud. Akankah sekedar gambar bugil, atau gambar lekukan tubuh yang walaupun mengandung nilai seni tetap mampu membasahi lubang seni??? Saya memang tidak begitu menyukai gambar-gambar yang bagi sebagian orang dianggap porno. Karena bagi saya, harus ada batasan yang jelas gambar porno mana yang harus saya sukai dan gambar porno mana yang sering saya hindari.
Gambaran seorang manusia dewasa yang telah tumbuh subur hutan rimbanya tanpa helaian benang yang melekat di tubuhnya, jelas adalah porno. Namun belum tentu porno itu saya suka. Kenapa???? Lha kalau yang bugil itu seorang laki-laki, gimana saya yang telah beristri -dan telah membuktikan kelelakian saya atas kandungan 9 bulan di perut istri saya- dapat menyukainya??? Beda halnya kalau yang bugil adalah seorang wanita cantik, tubuh mulus, memiliki organ tubuh yang lengkap, dan yang jelas masih menginjak tanah....
Kalau gambaran bugil yang muncul adalah seorang laki-laki, bagi saya memang bukan porno. Malah lebih pada kesan njijiki. Dianggep saya ga punya apa barang yang seperti itu? Hehehe....
Bayangkan....itu baru masalah pornografi. Belum menyinggung tentang masalah transaksi elektronika. Jadi bayangkan aja kalau misal kita melakukan transaksi online untuk membayar bookingan atas cewek di internet, walah....bisa kena pasal berlapis dong dalam satu undang-undang. Hehehe..... Eh, tapi kalau melihat draft RUU yang ada, sepertinya masih boleh ya? Berarti masih dijamin aman nih kalo kita transaksi esek-esek lewat internet......
RUU ITE yang akan disahkan besok, seakan-akan sudah berada di ujung pena. Bagi para wakil rakyat, mereka telah berniat membumi hanguskan pornografi di atas bangsa ini. Tekad yang seakan-akan melupakan bahwasanya pernah rekan sejawatnya justru memproduksi pornografi beberapa tahun silam. Ataukah mungkin malah tekad itu didasarkan agar jika suatu ketika mereka mengulang hal yang sama, tidak ada orang yang berani menyebarluaskan kepada publik, karena aturan hukum yang telah mereka sahkan telah jelas???
Kita tunggu saja selasa besok, begitu palu telah bersetubuh dengan meja dalam genggaman sang ketua; saat itulah para penggemar pornografi telah terampas hak-haknya sebagai manusia normal yang membutuhkan seni biologis sebagai penumbuh kreativitas dan daya khayalnya. Hanya keajaiban yang bisa membuat pembatalan atas pengesahan itu, salah satunya misal palu yang seharusnya diketukkan tiba-tiba hilang karena malam nanti dicuri oleh para penggemar dunia lendir. Mendingan dihukum karena mencuri palu, daripada dihukum karena pornografi; dendanya lebih ringan euy!!!
ditulis oleh: Sang Fajar @ 3/24/2008 09:24:00 PM  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
Tentang Aku
Name: Sang Fajar
Home: Bojonegoro, Yogya, Papua, Jatim - DIY - Papua, Indonesia
About Me: Bagi mereka yang merasa berjasa, aku hanyalah sampah. Bagi mereka yang merasa intelek, aku hanyalah pembual. Bagi mereka yang merasa suci, aku hanyalah kotoran. Bagi mereka yang merasa terhormat, aku tak lebihnya seperti orang jalanan. Bagi mereka yang merasa pernah mengenalku, aku sepertinya sudah tak ada. Namun diantara semua anggapan yang pernah ada, semua tentang aku ada karena anggapan-anggapan yang pernah ada......
Data Lengkap

Tulisan Terdahulu
Arsip
Links
Facebook


© . Presented by Fajar Ari Setiawan