.

 
Mesin Pencari


Sisi Lain


Catatan bukan Cacatan

Hubungi Temangsang
My status
Sssstttt.....


Halaman ini telah dibuka sebanyak:
Counter
Prosentase Pengunjung
Data Pengunjung
IP Address Anda


Ngundhuh Wohing Pakarti
Senin, Desember 03, 2007
Lagi browsing artikel di wikipedia, klik sana klik sini, ga tau sampai nyasar di artikel Ngundhuh Wohing Pakarti. Ilmu kejawen yang mengajarkan tentang suatu hukum karma bagi seseorang yang akan menerima akibat dari sebuah tindakan yang telah dilakukannya. Berkenaan dengan itu, saya pikir ada baiknya jika bahasan Ngundhuh Wohing Pakarti tersebut disandingkan dengan ajaran Aja Dumeh.
Banyak contoh diberikan berkaitan dengan sifat aja dumeh tersebut, namun demikian, banyaknya sifat aja dumeh yang ada di dalam diri setiap manusia seakan-akan tidak pernah ada habisnya. Sampai pada ingatan masa lalu, saat diri masih menjadi budak etnis keturunan. Betapa sifat aja dumeh itu benar-benar terlupakan, atau karena memang sepenuhnya juragan waktu itu bukan orang jawa.
Mengingat masa lalu, seakan tidak pernah ada habisnya. Bagian yang diingat hanyalah sebagian kecil dari bagian yang telah terlupakan. Demikian pula dengan bagian-bagian yang nyaris terlupakan.
Kembali pada sikap Aja Dumeh tadi, betapa saya masih inget bagaimana perlakuan juragan yang sewenang-wenang dalam memberikan perintah; hanya dengan berdasar dumeh duwe duit itu tadi, di samping dumeh duwe kalungguhan dan kasudibyan. Sampai pada akhirnya begitu seenaknya memperlakukan bangsaku sendiri.
Hitung-hitung mengingat sejarah, bagaimana orang tua sering mengatakan bahwa Cakra Manggilingan akan terus berputar; suatu ketika pula hidup kita yang seringkali didumehi juga akan berputar. Orang sabar jelas disayang Tuhan. Sejauh mana rasa sayang itu kita terima, akan sebanding dengan keimanan yang kita jalani.
Pengalaman memang hal yang paling berharga, termasuk pengalaman didumehi orang. Tinggal menunggu waktu saja, kapan sikap dumeh yang orang perbuat pada kita akan menjadi sebuah karma bagi mereka yang mengkesampingkan peringatan Aja Dumeh. Kenyataan demikian memang sudah banyak contohnya.
Sebagai contoh, ambil saja sebuah nama HM, yang menjadi wirausahawan di bidang TI. Yang merasa dirinya selalu berada di atas dengan segala kekayaannya yang belum seberapa itu, selalu merasa telah menguasai segalanya. Kenyataannya, kesombongan itu hanyalah kulit dari sebuah penderitaan batin atas keinginannya mendapatkan seorang momongan di dalam keluarga. Sampai akhirnya dia mengambil istri simpanan dari salah seorang karyawannya sendiri yang bernama Ft. Ini memang suatu kisah nyata, dan akan selalu saya ingat sebagai sebuah pengalaman hidup tentang bagaimana sebuah kesombongan itu akan runtuh.
Dalam sebuah kesempatan makan malam bersama saya di sebuah warung sop buntut di depan Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta, Hm ini bercerita pada saya tentang kehidupan rumah tangganya, sampai pada permasalahan seks di ranjang. Tentang keinginan mendapatkan buah hati yang tak kunjung tiba sampai harus mengobatkan istrinya secara rutin ke Jakarta tiap bulan untuk mendapatkan suntikan dokter. Walau hamil, saya sempat tertawa, yang membuat hamil itu suntikan dokter dengan menggunakan jarumnya pak dokter atau emang jarum suntik sungguhan.
Keinginan untuk mendapatkan buah hati yang tak kunjung datang, membuat dia berselingkuh dengan si Ft. Perselingkuhan itu memang serius, nyatanya sampai Hm berani melakukan kawin siri di Batam dengan mengikuti kepercayaan si Ft tersebut.
Di Jogja sendiri, si Ft disewakan sebuah apartemen di dekat tempat usaha Hm tersebut. Hal demikian dikatakan Hm untuk mempermudah pertemuan mereka berdua. dengan kontrakan yang dekat, sekedar beralasan mau keluar untuk beli komik Long Hou Man, si Hm dah bisa enak-enakan berdua di kamar, sementara istrinya ditinggal sendiri di tempat usaha.
Hm lebih lanjut bercerita, bagaimana dia selalu membandingkan istrinya dengan simpanannya tersebut. Bilamana si istri yang dirasakannya sudah tidak nikmat lagi, jauh berbeda dengan simpanan yang selalu membuatnya klepek-klepek di ranjang. Masih ingat ceritanya pada saya, yang menggambarkan tentang kekaguman istrinya akan kekuatannya di ranjang yang mampu membuat istrinya keluar setidaknya 4 kali dalam satu permainan. Eh...ga taunya di belakang cerita Hm mengatakan rahasia kekuatan itu karena sebenarnya dia sudah tidak bisa merasakan kenikmatan istrinya. Nah lo.....ternyata tahan lama bukan karena kuat, tapi karena susah keluar ya. hehehehe....
Kembali pada ajaran Ngundhuh Wohing Pakarti tadi, tanpa suatu pertanda, tiba-tiba perselingkuhan itu terbongkar oleh istrinya. Terbongkarnya perselingkuhan itu disebabkan oleh hal sepele, akibat ramalan. Ya....ramalan seorang peramal yang merupakan teman Hm sendiri, dan dikenalkan pada istrinya oleh Hm sendiri. Nah...kalo gini, rasanya emang pas sudah, lengkap dalam Ngundhuh Wohing Pakarti. Udah selingkuh ketahuan, usahanya sempat pula digrebek polisi karena menyinggung masalah pornografi.
Akibat masalah tersebut, akhirnya salah satu tangan kanan Hm dalam usahanya dipecat. Alasan pemecatan itupun sebenarnya saya tahu dari awal, karena yang dipecat itu tahu mengenai perselingkuhan Hm dengan karyawannya. Namun pada waktu itu saya masih sempat lolos dari aksi pemecatannya, sampai akhirnya saya sendiri diberhentikan karena membuka usaha sendiri.
Berhenti dari bahasan karma dan ngundhuh wohing pakarti, sepertinya Hm masih belum kapok juga dengan arti penting dari sebuah karma. Usahaku yang berjalan dan aku rintis pun direcokin pula, dengan berbagai akal bulusnya yang lama. Itung-itung dikiranya aku ga ngerti, sampai harus suruhan orang untuk menjalankan usahanya, begitukan bung Roy?
Sepertinya karma masa lalu baginya tidak cukup, sampai harus terus mengejar aku. Mungkin karena masih merasa Dumeh itu tadi. Dumeh duwe utangan kakangne, dumeh duwe bojo, dumeh ....... Yang penting kalo aku sendiri sih cuek aja. Toh akhirnya kalo emang sudah tiba waktunya, karma dari sebuah goresan cakra manggilingan itu akan menampar mukanya, dan mengingatkannya untuk aja dumeh. Itupun kalo masih mempan, karna sepertinya muka badak udah menghiasi kulit wajahnya dari segala rasa malu.
Terlanjur jauh bercerita, bagiku selalu ingat akan sebuah petuah orang tua sebagaimana orang jawa menasehati anaknya dalam menghadapi hidup. Di mana orang jawa mempunyai watak yang berdasarkan pada keadaan slamet. Selamat dalam artian mengarungi hidup, cobaan, maupun gangguan.
Menyerahkan semua pada yang berkehendak dalam mengatur hidup adalah sebuah sikap yang lebih mulia daripada menanam dendam. Biar bagaimanapun, posisi bertahan bilamana waktunya tiba akan membuat seseorang menjadi menang. Sekiranya hal itu memang sesuai dengan filsafat Ngundhuh Whing Pakarti.......
ditulis oleh: Sang Fajar @ 12/03/2007 11:41:00 PM  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
Tentang Aku
Name: Sang Fajar
Home: Bojonegoro, Yogya, Papua, Jatim - DIY - Papua, Indonesia
About Me: Bagi mereka yang merasa berjasa, aku hanyalah sampah. Bagi mereka yang merasa intelek, aku hanyalah pembual. Bagi mereka yang merasa suci, aku hanyalah kotoran. Bagi mereka yang merasa terhormat, aku tak lebihnya seperti orang jalanan. Bagi mereka yang merasa pernah mengenalku, aku sepertinya sudah tak ada. Namun diantara semua anggapan yang pernah ada, semua tentang aku ada karena anggapan-anggapan yang pernah ada......
Data Lengkap

Tulisan Terdahulu
Arsip
Links
Facebook


© . Presented by Fajar Ari Setiawan