.

 
Mesin Pencari


Sisi Lain


Catatan bukan Cacatan

Hubungi Temangsang
My status
Sssstttt.....


Halaman ini telah dibuka sebanyak:
Counter
Prosentase Pengunjung
Data Pengunjung
IP Address Anda


Serat Dewa Ruci
Minggu, Oktober 21, 2007

Secara tiba-tiba di rumah aku membongkar tumpukan wayang kulit asli yang selama ini tersimpan rapi dalam kotak. Keinginanku tiba-tiba muncul untuk melihat sosok Dewa Ruci, yang dalam sebuah dialog mistikal dengan Bima usai pertempuran Bima melawan ular Nabatnawa dalam sebuah upaya pencarian tirta pawitra oleh Bima. Dalam dialog itu, kurang lebih Sang Dewa Ruci memberikan wejangan pada Bima, mengenai arti sukacita yang mampu memperbesar rasa menerima atau terima kasih.
Ucapan rasa menerima itu, jika kita cermati secara lebih mendalam; mencerminkan juga bagaimana manusia harus melakukan upaya pencarian sangkan paraning dumadi terhadap asal dan tujuan hidup manusia. Pencarian sangkan paraning dumadi tersebut bukan hanya sekedar upaya pengembaraan terhadap luasnya dunia, namun lebih rinci terhadap isi batin yang kita miliki. Proses pencarian batin atau identifikasi diri, atau juga individuasi memerlukan suatu proses yang sangatlah panjang. Proses secara ilmiah, secara mata batin, maupun proses secara sufistik.
Kembali pada inti Serat Dewa Ruci.... Falsafah terhadap perjalanan Bima dalam mencapai Empat Tahap Menuju Manusia Sempurna tersebut, dalam ilmu kejawen sering disebut dengan laku raga, laku budi, laku manah, dan laku rasa. Hal ini sama persis dengan ajaran Mangkunegara IV dalam Wedhatama mengenai empat tahap laku yang disebut sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa. Urutan empat langkah menuju manusia sempurna tersebut, adalah dimulai dari tingkatan yang terendah untuk kemudian menuju pada tingkatan yang tertinggi; sampai akhirnya terjadi pencapaian manusia sempurna.
Banyaknya laku yang telah kita jalani, sesuai dengan tingkatan yang ada, akan mampu menyucikan hati dan diri kita dari berbagai hal yang bersifat duniawi.
Sebagai manusia biasa, bagi saya serat Dewa Ruci memberikan sumbangan pemikiran positif yang luar biasa. Seperti terjadinya sebuah proses transfer energi, yang kemudian mendorong orang untuk mendapatkan kekuatan yang luar biasa untuk melakukan hal yang sesuai dengan tujuan dari proses yang dijalani. Seperti nada kebingungan yang muncul dalam diri Bima ketika Dewa Ruci menyuruh dirinya memasuki badannya yang jauh lebih kecil dari Bima. Namun dengan keyakinan diri akan kemampuan yang dimiliki, Dewa Ruci memberikan satu gambaran; bahwa sebesar apapun pandangan maupun anggapan terhadap besaran suatu obyek, akan hadir sebuah obyek lain yang memiliki ukuran besaran jauh di atasnya.
Dalam pandangan awam kita, dunia yang ada di hadapan kita akan terlihat sangat luas sekali; namun mata batin kita akan mengatakan berbeda. Bahwa dunia yang ada luasnya tidak mampu menandingi luasnya cakrawala, dan banyaknya materi yang mendiami di dalamnya. Keterluasan dunia, sangatlah tergantung bagaimana kita melihatnya dari berbagai segi dan sudut pandang yang berbeda.
Ibarat Bima yang memasuki raga sang Dewa Ruci, mata batin kita mampu memasuki dunia yang luas ini tanpa harus menjelajahi secara nyata bagian demi bagian yang ada; bahkan jengkal demi jengkal tanah yang tersisa. Mata batin kita akan mampu melihat secara nyata sebagaimana pandangan visual kita, tentang seluruh isi dunia. Dan yang lebih penting, pandangan dari mata batin ini tidak akan menipu diri kita sebagaimana pandangan yang tampak oleh sepasang bola mata yang bertengger di kepala kita.
Dalam kehidupan, ibarat ceritera Dewa Ruci manakala Prabu Duryudana memanggil seluruh anggota Kurawa untuk merencanakan sebuah skenario pembinasaan Bima. Memang, secara taktis, Kurawa memiliki kekuatan yang lebih besar daripada Pandawa. Namun, kemenangan Pandawa ternyata di atas kekuatan Kurawa hanya karena Bima ada di antara para penegak Pandawa.
Ibarat sebuah opera sabun yang menceritakan perjalanan politik praktis sebuah negeri yang mencoba mencari sosok Satria Piningit di tengah kehausan akan ketentraman negeri dan ancaman perebutan tampuk kepemimpinan, adakalanya sebuah skenario emas dari sebuah partai politik yang memiliki massa besar harus takluk di tengah perjalanan hanya karena adanya suatu sosok yang mampu menarik medan magnet massa untuk berpaling dari segala skenario pintar dalam mengentaskan bangsa. Hal demikian sejalan kiranya dengan kekalahan Kurawa terhadap Pandawa.
Kembali pada serat Dewa Ruci dan perjalanan Bima dalam mencari Tirta Pawitra sebagai bentuk rasa hormat seorang murid pada gurunya, yang tak lain adalah Resi Durna. Mata hati dan pergulatan kepentingan yang ada dalam diri kita tidak akan pernah mampu berjalan beriringan, sejauh pandangan visual mata kita tertutup oleh nilai kepentingan yang lebih besar. Karenanya, bertolak pada perjalanan cerita serat Dewa Ruci bagi diri kita pribadi; akankah kita tetap teguh mencari Tirta Pawitra dengan mengkesampingkan berbagai cobaan dan godaan, atau justru ikut arus dalam menikmati cobaan dan menggeluti godaan hanya karena takut akan semboyan yen nora ngedan ra bakal keduman.....
ditulis oleh: Sang Fajar @ 10/21/2007 01:38:00 AM   0 comments
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H
Sabtu, Oktober 13, 2007
Selamat Hari Raya Idul Fitri
ditulis oleh: Sang Fajar @ 10/13/2007 03:19:00 AM   0 comments
Jenuh......
Selasa, Oktober 09, 2007
Balik lagi..... bukan masalah balik lagi nulis di blog ini, cuman balik lagi datangnya kejenuhan itu. Tak pikir kalo dah bisa mengatasi kejenuhan, aku akan terus larut dalam aktivitas. Eh.....ga taunya balik lagi kepada kejenuhan lagi.
Bangun tidur cuman bingung memandang tanah sebelah rumah yang mulai ditumbuhi rerumputan. Duduk di meja makan sambil minum kopi pagi hari, tetap sama aja dengan pemandangan di kamar arah bola mataku menerawang.
Pengen banget balik ke rumah aku di perumahan, yang biarpun orang bilang ndeso; namun mampu memberikan aku banyak aktivitas dan seribu obat pembunuh kejenuhan yang kerap menghampiriku. Rumah yang dibilang kedua orangtuaku terlalu kecil, bahkan terlalu sempit bagi orang yang mau mengalirkan hawa kentutnya; namun nyaman bagiku.
Tanpa internet, nyatanya tidak membuatku merasa terbunuh dalam gegap gempita informasi dunia. Tanpa sinyal telepon selluler, justru dapat membuatku tidur terlelap tanpa harus diganggu oleh dering telepon atau sms. Pelataran yang bertutupkan lapisan semen tidak membuatku berkurang akan pemandangan hijau tumbuh-tumbuhan, karena aku telah banyak menyiapkan makanan ulat itu di dalam pot.
Jauhnya warung, tidak mampu menjadikan badanku kurus kering tak terurus; karena stok makananku di lemari es dan meja selalu siap untuk kapanpun. Satu lagi yang aku kangeni..... Springbedku yang di kamar tidaklah bersikap kejam pada tidurku yang pulas dan mimpiku yang panjang, karena dia tidak pernah tega untuk menendangku ke lantai seperti ranjang-ranjang yang pernah ku tiduri selama ini.
Yang jelas, banyak yang aku rindukan dari rumah sempit, mungil, namun ngangeni itu. Aktivitas untuk bangun pagi hari dengan perasaan segar, dan setumpuk kegiatan yang aku lakukan sendiri secara mandiri; hanyalah satu bagian kecil dari kerinduan ini. Satu hal yang membuat aku ingin selalu tinggal di situ; sebuah status sebagai kepala keluarga yang selalu mendesakku untuk selalu, selalu, dan selalu belajar lebih banyak dari dunia sekitarku...........
ditulis oleh: Sang Fajar @ 10/09/2007 01:31:00 AM   0 comments
Tentang Aku
Name: Sang Fajar
Home: Bojonegoro, Yogya, Papua, Jatim - DIY - Papua, Indonesia
About Me: Bagi mereka yang merasa berjasa, aku hanyalah sampah. Bagi mereka yang merasa intelek, aku hanyalah pembual. Bagi mereka yang merasa suci, aku hanyalah kotoran. Bagi mereka yang merasa terhormat, aku tak lebihnya seperti orang jalanan. Bagi mereka yang merasa pernah mengenalku, aku sepertinya sudah tak ada. Namun diantara semua anggapan yang pernah ada, semua tentang aku ada karena anggapan-anggapan yang pernah ada......
Data Lengkap

Tulisan Terdahulu
Arsip
Links
Facebook


© . Presented by Fajar Ari Setiawan