.

 
Mesin Pencari


Sisi Lain


Catatan bukan Cacatan

Hubungi Temangsang
My status
Sssstttt.....


Halaman ini telah dibuka sebanyak:
Counter
Prosentase Pengunjung
Data Pengunjung
IP Address Anda


Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya
Sabtu, Februari 24, 2007
Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya
(Kej11:1-9 ; Mrk8:34-9:1)
“Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus. Kata-Nya lagi kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa." (Mrk8:34-9:1)

Ada orang katolik sedang jajan atau makan di warung atau restoran ketika berdoa malu/tidak membuat tanda salib, takut kalau ketahuan dirinya sebagai orang katolik, yang beriman pada Yesus Kristus. Demikian juga ada orang yang tidak berani mencantumkan nama baptis di depan nama dirinya. Jika mencantumkan nama baptis atau membuat tanda salib di muka umum saja takut, jangan-jangan yang bersangkutan juga tidak setia dan tidak konsekwen dalam penghayatan iman. Dengan kata lain pembaptisan yang telah diterima dengan gembira, bangga dan ceria saat itu hanya bersifat liturgis/formal; rahmat pembaptisan tidak mempengaruhi atau menjiwai pribadi yang bersangkutan. Sabda Yesus hari ini kiranya mengajak atau mengingatkan kita akan rahmat pembaptisan atau janji-janji baptis dimana kita “berjanji menolak semua godaan setan dan hanya mengabdi Tuhan Allah saja”. Setia dan konsekwen menghayati janji ini rasanya berarti menghayati sabda Yesus “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya”. Menghayati janji baptis berarti meninggalkan gairah, semangat, cara bertindak sendiri dan mengikuti atau menghayati gairah, semangat,.cara bertindak Yesus. Secara konkret hal ini kurang lebih berarti setia dan taat pada panggilan serta melaksanakan tugas perutusan atau kewajiban yang terkait dengan panggilan tersebut alias ‘menyangkal diri dan memikul salib yang dianugerahkan Allah kepada kita setiap hari’.
“Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu. Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi” (Kej11:8-9).
Jika kita tidak setia, taat dan konsekwen terhadap panggilan dan tugas perutusan kita, rasanya apa yang terjadi pada orang-orang di Babel akan terjadi dalam kebersamaan hidup kita, dimana kesombongan dan egois merajalela dan mengacau-balaukan kehidupan. Maka sekiranya kita sukses atau berhasil dalam ‘menyangkal diri dan memikul salib setiap hari’ hendaknya jangan jatuh kepada kesombongan atau egois, merasa diri yang terhebat, terpenting, terhormat dst.. , sebaliknya marilah kita menjadi rendah hati dan sosial. Jika kita berhasil marilah dengan rendah hati membantu mereka yang tidak atau kurang berhasil; jika kita menjadi kaya marilah kita membantu mereka yang miskin dan berkekurangan, jika kita pandai dan cerdas marilah kita membantu mereka yang bodoh dan tertinggal, jika kita sehat wal’afiat marilah kita perhatikan mereka yang sakit dst.. Sambil membantu atau menolong atau bertindak sosial terhadap mereka, marilah kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah menganugerahkan segala sesuatu yang baik kepada kita. Hidup penuh syukur dan terima kasihj itulah yang menandai orang yang rendah hati. Saling bersyukur dan berterima kasih dalam hidup bersama itulah cara hidup damai sejahtera sejati. Ingatlah bahwa segala bentuk sapaan, sentuhan, pandangan sesama kita kepada kita adalah berupa perwujudan ‘kasih’ sehingga kita menerima ‘kasih’. Jika mereka tidak mengasihi kita pasti mereka mendiamkan kita, tidak menyapa, menyentuh atau memandang sedikitpun.
“Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri! TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia; dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi. Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka” (Mzm33:12-15)
ditulis oleh: Sang Fajar @ 2/24/2007 11:58:00 PM  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
Tentang Aku
Name: Sang Fajar
Home: Bojonegoro, Yogya, Papua, Jatim - DIY - Papua, Indonesia
About Me: Bagi mereka yang merasa berjasa, aku hanyalah sampah. Bagi mereka yang merasa intelek, aku hanyalah pembual. Bagi mereka yang merasa suci, aku hanyalah kotoran. Bagi mereka yang merasa terhormat, aku tak lebihnya seperti orang jalanan. Bagi mereka yang merasa pernah mengenalku, aku sepertinya sudah tak ada. Namun diantara semua anggapan yang pernah ada, semua tentang aku ada karena anggapan-anggapan yang pernah ada......
Data Lengkap

Tulisan Terdahulu
Arsip
Links
Facebook


© . Presented by Fajar Ari Setiawan