.

 
Mesin Pencari


Sisi Lain


Catatan bukan Cacatan

Hubungi Temangsang
My status
Sssstttt.....


Halaman ini telah dibuka sebanyak:
Counter
Prosentase Pengunjung
Data Pengunjung
IP Address Anda


Poliandri Lebih Baik Dari Poligami?
Minggu, Desember 10, 2006

Menurut daku, yang diperlukan oleh seorang anak bukanlah siapakah lelaki yang menyumbangkan seciprat sperma untuk membuat dirinya, tapi siapakah yang berperan sebagai sosok seorang ayah sesungguhnya dalam pertumbuhannya.
Justru dengan sistem 4 ayah 1 ibu, anak-anak diuntungkan karena lebih banyak yang melindungi mereka jika ada apa-apa. Bahkan mungkin ada baiknya jika ke-empat ayah tersebut mengatur shift kerja mereka sehingga setidaknya ada 1 ayah yang selalu berjaga di rumah setiap saat.
Menjaga keluarga dari marabahaya. (Misal: Kalau ada perampok yang masuk rumah, setidaknya ada seorang lelaki dewasa yang akan melindungi ibu dan anak-anaknya)
Selain itu, 4 ayah berarti adanya 4 tulang punggung keluarga. (EMPAT saudara-saudara! ! E-M-P-A-T!! bukan 1 atau 2 atau 3, tapi EMPAT sumber pemasukan keluarga!!) Jadi secara keseluruhan, kesejahteraan keluarga menjadi lebih baik. Biaya perawatan anakpun lebih terjamin. Jika yang 1 terkena PHK, masih ada 3 lainnya yang bekerja. Tentunya yang terkena PHK itu juga akan merasa gengsi dan malu terhadap 3 suami lainnya, sehingga ia akan berusaha mendapatkan kerja secepatnya.
Poliandri juga baik untuk mengurangi jumlah penduduk. Sebab, walaupun ada 4 pejantan yang siap membuahi, tapi pabrik anaknya cuma 1!! Jadinya ya dalam jangka panjang akan mengurangi jumlah penduduk dan anak-anak yang dibuat pun diharapkan lebih "berkualitas" . (Ya itulah, karena biaya perawatan anak datang dari 4 sumber pemasukan) Intinya: turunkan kuantitas, naikkan kualitas!!
Kalau poligami bisa mengakibatkan persaingan di antara para istri dan anak-anaknya, poliandri mungkin bisa memberikan efek perdamaian. Sebab pada saat seorang anak tidak jelas siapa ayahnya (Pokoknya di antara 4 itu! Eh, diluar 4 itu juga bisa ding), maka para ayah akan tetap memberikan perhatian kepada si anak. Masing-masing ayah akan menganggap anak tersebut adalah anaknya. (Kalau di poligamikan, bisa ada resiko setiap anak membangga-banggakan ibunya doang dan menjelekkan ibu dari anak yang lain)
Para ayah tersebut punya teman untuk ngobrol malam-malam, teman untuk main catur, main panco (Kalau mau juga bisa buat turnamen kecil-kecilan)ataupun main kartu (Pas 4 orang! Cocok buat maen capsa, maen mahjong juga bisa). Nonton bola di rumah pun menjadi lebih semarak! Dengan sistem 4 suami pula para pria bisa belajar menekan rasa egoisnya dengan saling berbagi, bertoleransi dan bersabar.
Ingat, Tuhan suka orang sabar... (Maap Tuhan, nama Anda "terpaksa" saya bawa-bawa)
Rewelnya istri pun menjadi lebih berkurang. Bayangkan jika seorang suami punya 4 istri. Maka dalam 24 jam, akan ada 4 orang istri yang berpotensi untuk mengomel dan mengeluh di kuping suami. Tapi JIKA 4 suami 1 istri, maka rata-rata kemungkinan masing-masing suami di-rese-in istri adalah maksimal 6 jam sehari. (Dengan asumsi ngawur bahwa sang istri mengomel selama 24 jam non-stop)
Sudah menjadi pengetahuan umum pula jika umur harapan hidup pria lebih pendek. Jadi, setidaknya jika seorang suami mati, sang istri tidak akan langsung menjadi janda, masih ada 3 orang suami yang menemani. Sementara jika sang istri yang mati, maka para suami bisa memilih untuk segera kawin lagi atau menjomblo. (Point bebek di sini: Kalau seorang wanita menjadi janda, maka ia lebih sulit untuk mencari suami daripada seorang duda mencari istri)
Sekarang mari kita tinjau dari sudut seksualitas. Sudah menjadi keluhan umum di rubrik konsultasi kalau banyak wanita gagal mencapai orgasme karena suami cepat selesai atau tidur begitu saja setelah mencapai puncak. Padahal pada umumnya, wanita itu lebih lambat panas daripada pria. Nah... dengan adanya 4 suami, maka suami-suami tersebut bisa ber-estafet ria. Jika istri lambat panas dan blum panas-panas juga, maka jangan kuatir, masih ada rekan anda yang akan meneruskan perjuangan membawa istri menuju ke puncak kenikmatan. (Menuju puncak, gemilang cahaya, mengukir cinta,
SEJUTA RASA.... Kyaaaaaaa... !! )
Akhir kata, dapat disimpulkan (lagi-lagi) secara SEPIHAK bahwa poliandri "lebih baik" daripada poligami...

Anda setuju??? Jika YA, berarti anda sama gilanya dengan yang menulis semua intermezzo di atas!!!!
ditulis oleh: Sang Fajar @ 12/10/2006 11:34:00 PM   1 comments
Siapa Beriman Menjadi Kafir
Selasa, Desember 05, 2006

Sesat, menyimpang, menyeleweng, dan kafir selalu menjadi kata sakti yang ampuh dan mengerikan. Membawa dampak bencana besar bagi yang mendapat label kata-kata itu. Ia seperti badai tsunami yang akan meluluhlantahkan semuanya. Tanpa mengenal ampun.

Pengrusakan terhadap kantor, masjid, dan perumahan orang-orang Ahmadiyah di berbagai tempat adalah contohnya. “Penangkapan” Lia Eden dan pengikutnya menjadi contoh lain. Dipenjaranya Yusman Roy, yang “mempopulerkan” salat dua bahasa, juga masuk hitungan. Dan masih banyak deretan panjang korban-korban tusnami kata-kata sakti itu.

Sesat, menyimpang, menyeleweng, dan kafir merupakan kata-kata dari si aku yang menganggap dirinya benar, lurus, dan berada di jalan Tuhan. Ketika aku benar, aku lurus, aku berada di jalan Tuhan, maka orang lain yang berbeda akan disebut, dia sesat, dia menyeleweng, dan dia telah menyimpang dari titah Tuhan.

Sesat, menyimpang, menyeleweng, dan kafir lahir dari si aku yang merasa kemapanannya terancam. Seperti sebuah dinasti yang diusik oleh pemberontak. Ketentramannya terganggu. Ia marah dan murka seolah raja yang dengan sabdanya memerintahkan para panglima turun tangan. “Hancurkan dan luluhlantahkan mereka yang memberontak,” gembornya emosi.

Sesat, menyimpang, menyeleweng, dan kafir selalu diarahkan kepada mereka yang berbeda. Mereka yang mengambil jalan lain. Mereka yang berpendapat berlawanan. Mereka yang keluar barisan dari si aku yang mengaku lurus, benar, dan berada di jalan Tuhan.

Padahal, yang namanya berbeda, jalan lain, dan keluar barisan sudah menjadi kenyataan yang selalu ada. Sekuntum mawar di taman saja terdiri dari berbagai jenis, harimau di hutan pun demikian. Ada macan tutul, macan putih, cetah, dan seterusnya.

Masing-masing punya ciri khas, memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Dan di antara mereka tidak saling menghabisi. Macan tutul tak pernah membentuk pasukan untuk menyerang macan putih, juga sebaliknya. Mungkin mereka sadar bahwa perbedaan sudah menjadi kehendak-Nya.

Si aku yang mengaku lurus dan benar tidak sadar bahwa dalam keberimanan menyimpan ketakberimanan. Keberimanan membawa kekafiran. Ketika seseorang beriman dan menjadi muslim, maka ia kafir bagi orang Kristiani. Demikian pula tatkala seseorang beriman dan menjadi seorang Kristiani, otomatis ia kafir jika dipandang dari mata seorang Budha atau seorang Hindu, dan sebaliknya. Si aku yang mengaku lurus dan benar itu tak mengetahui kalau di mata yang lain ia juga seorang kafir. Si aku itu tak merasa bahwa ia juga pantas diluluhlantahkan karena kekafirannya itu.

Tapi apakah solusi bagi yang kafir, menyeleweng dan menyimpang harus dengan diluluhlantahkan dan dihilangkan? Kalau logika ini yang digunakan maka selamanya tak ada kedamaian.

Dikutip dari editorial Indonesian Conference on Religion and Peace edisi 5 Desember 2006 tanpa mengubah, mengurangi, atau menyunting isinya.


ditulis oleh: Sang Fajar @ 12/05/2006 10:19:00 PM   0 comments
Itenas
Senin, Desember 04, 2006
Kalau ga mau lihat pornonya, dengerin aja suaranya.
ditulis oleh: Sang Fajar @ 12/04/2006 12:52:00 AM   0 comments
Tentang Aku
Name: Sang Fajar
Home: Bojonegoro, Yogya, Papua, Jatim - DIY - Papua, Indonesia
About Me: Bagi mereka yang merasa berjasa, aku hanyalah sampah. Bagi mereka yang merasa intelek, aku hanyalah pembual. Bagi mereka yang merasa suci, aku hanyalah kotoran. Bagi mereka yang merasa terhormat, aku tak lebihnya seperti orang jalanan. Bagi mereka yang merasa pernah mengenalku, aku sepertinya sudah tak ada. Namun diantara semua anggapan yang pernah ada, semua tentang aku ada karena anggapan-anggapan yang pernah ada......
Data Lengkap

Tulisan Terdahulu
Arsip
Links
Facebook


© . Presented by Fajar Ari Setiawan