.

 
Mesin Pencari


Sisi Lain


Catatan bukan Cacatan

Hubungi Temangsang
My status
Sssstttt.....


Halaman ini telah dibuka sebanyak:
Counter
Prosentase Pengunjung
Data Pengunjung
IP Address Anda


Pesan Natal PGI dan KWI 2005
Minggu, Desember 25, 2005
"Janganlah Takut Sebab Aku Menyertai Engkau"


Pesan Natal Bersama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia dan Konferensi Wali Gereja Indonesia Tahun 2005: "JANGANLAH TAKUT SEBAB AKU MENYERTAI ENGKAU ..." (Yes. 41:10a). Kepada segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada. Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

Dengan hati yang penuh syukur dan sukacita umat Kristiani Indonesia merayakan Natal, peringatan kelahiran Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat dunia. Di tengah berbagai kondisi yang mewarnai kehidupan, Natal selalu membawa sukacita dan pengharapan.

Lagu-lagu Natal dan kidung-kidung rohani yang dikumandangkan dalam perayaan-perayaan Natal, membuat manusia sungguh¬-sungguh hidup walaupun ada kegetiran, kepahitan, luka dan duka di dalamnya. Yesus sendiri yang bersabda, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam kelimpahan" (Yoh. 10:10b).

Ia memberi hidup bagi orang-orang miskin, para tawanan, orang-orang tertindas, orang-orang buta, orang-orang yang tersingkir dan tersungkur, serta mereka yang terhempas dan terkandas (bdk, Luk. 4:18-19; 7:22). Umat Kristiani Indonesia merayakan Natal 2005 ini dalam suasana yang khusus.

Berbagai peristiwa memilukan terjadi akhir-akhir ini dan mendera kehidupan bangsa. Berbagai krisis yang melilit perjalanan bangsa sejak beberapa tahun terakhir belum kunjung usai, bahkan makin menyengsarakan kehidupan rakyat.

Krisis kepercayaan melahirkan iklim politik yang tidak sehat. Suatu keadaban yang diwarnai rasa curiga, iri hati, perselisihan dan balas dendam telah mengganggu hubungan antar warga bangsa. Bencana alam, wabah penyakit dan kelaparan melanda beberapa wilayah di tanah air. Kebebasan beragama dan beribadah menghadapi berbagai halangan karena melemahnya sikap tenggang rasa. Suasana seperti ini telah membuat kita sebagai bangsa takut untuk memandang masa depan. Sanggupkah kita keluar dari situasi sulit yang melilit kehidupan kita? Kapankah semua persoalan ini akan berakhir?

Situasi sulit seperti ini pernah dialami oleh umat Allah di zaman Perjanjian Lama yang harus menjalani hidup di tanah pembuangan Babilonia (2 Taw. 36:11-21). Kenyataan ini merupakan pengalaman pahit yang mengguncang iman mereka. Sekian lama mereka tinggal di tanah pembuangan, jauh dari tanah air mereka sendiri. Dalam suasana merasa ditinggalkan sendirian oleh Allah, mereka tidak melihat harapan untuk bebas dari pembuangan. Akibatnya, mereka takut berharap dapat keluar dari kesulitan yang membelenggu mereka dan takut memandang masa depan.

Dalam situasi seperti itu dengan perantaraan Nabi Yesaya, Allah berjanji untuk membawa mereka kembali ke tanah air mereka (Yes. 40:10-11; bkd, 2 Taw. 36:22-23; Ezr. 1:1-4). Allah berkuasa atas alam semesta (Yes. 45:11-13) dan karena itu umat dapat tetap berharap kepada-Nya. Mereka juga diingatkan untuk tidak takut atau bimbang karena Allah sendiri menyertai mereka dan mempersiapkan masa depan untuk mereka (Yes. 41: 10).

Allah ada bersama umat-Nya dan turut merasakan pengalaman pahit yang mereka alami. Allah meneguhkan dan menolong mereka, bekerja bersama mereka membangun pengharapan baru. Dengan nama Immanuel, yang berarti "Allah menyertai kita" (Yes. 7:14; Mal. 1: 23), diingatkan bahwa Ia terlibat dalam usaha-usaha mengatasi segala persoalan dan kesulitan yang membelenggu bangsa kita selama ini.

Natal mengingatkan kita bahwa Allah yang menjadi manusia juga merasakan dan mengalami persoalan¬-persoalan hidup kita sebagai manusia. Allah tidak hanya menonton pergumulan kita, atau hanya melihat kita waktu penderitaan mendera. Ia tidak membiarkan kita bekerja sendirian, tetapi bekerja bersama kita, menghadapi segala persoalan kita. Dalam keyakinan bahwa Allah telah datang dan menyertai kita, janganlah kita menjadi takut dan putus asa, tetapi justru dengan penuh semangat dan pengharapan, bekerja membangun masa depan yang lebih baik.

Dengan berpegang teguh pada Firman Allah yang menegaskan bahwa Ia senantiasa menyertai kita, marilah kita bersama seluruh warga bangsa terus-menerus berusaha membangun keadaban baru.

Marilah kita wujudkan pengharapan untuk menjadi suatu bangsa yang bebas dari korupsi; menghargai kemajemukan, anti kekerasan, menjunjung tinggi hukum dan keadilan, menghargai hak asasi manusia, dan melestarikan keutuhan ciptaan, menuju kehidupan yang lebih baik. Kami berharap bahwa peristiwa Natal sungguh-sungguh memberikan kekuatan, inspirasi, pencerahan dan visi baru bagi, umat Kristiani Indonesia untuk melaksanakan tugas kesaksian dengan setia di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Semoga peristiwa Natal benar-benar membangkitkan kesadaran baru bagi umat Kristiani Indonesia untuk memperkukuh ikatan persaudaraan dengan seluruh warga bangsa sambil terus-menerus memeriksa diri dan membaca tanda-tanda zaman agar dapat berperan signifikan dalam pembangunan bangsa dan negara dengan cara-cara yang tepat. Selamat Natal 2005 dan Tahun Baru 2006.


Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia

Ketua Umum : Pdt. Dr. A.A Yewangoe
Sekretaris Umum : Pdt. Dr. Richard M. Daulay

Konferensi Waligereja Indonesia
Ketua : Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J.
Sekretaris Jenderal : Mgr. Ignatius Suharyo
ditulis oleh: Sang Fajar @ 12/25/2005 08:28:00 AM  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
Tentang Aku
Name: Sang Fajar
Home: Bojonegoro, Yogya, Papua, Jatim - DIY - Papua, Indonesia
About Me: Bagi mereka yang merasa berjasa, aku hanyalah sampah. Bagi mereka yang merasa intelek, aku hanyalah pembual. Bagi mereka yang merasa suci, aku hanyalah kotoran. Bagi mereka yang merasa terhormat, aku tak lebihnya seperti orang jalanan. Bagi mereka yang merasa pernah mengenalku, aku sepertinya sudah tak ada. Namun diantara semua anggapan yang pernah ada, semua tentang aku ada karena anggapan-anggapan yang pernah ada......
Data Lengkap

Tulisan Terdahulu
Arsip
Links
Facebook


© . Presented by Fajar Ari Setiawan